Aksi bom syahid kembali mengguncang Irael. Sebuah ledakan dahsyat dikabarkan meledak Ahad (30/03) kemarin. Ledakan itu terjadi di kota Netaniya, wilayah pemukiman koloni Yahudi di utara “Israel”. Bom yang ditengarai sebagai aksi syahid ini dilakukan oleh seorang pejuang Palestina dengan melilitkan bom pada sekujur tubuhnya kemudian diledakan di pusat petokoan kota Netaniya. Puluhan orang Yahudi (sedikitnya 36 orang), baik yang tewas maupun terluka, bergelimpangan akibat aksi tersebut. Akibat insiden ini, ratusan pasukan keamanan dan militer Israel dikerahkan untuk menyisir sekitar lokasi kejadian dan mengblokir kota dengan menutup gerbang-gerbang kota. Sementara pesawat Israel melakukan terbang rendah di seputar lokasi kejadian untuk mencari para anggota peralwanan rakyat Palestina. Brigade Martir al Quds, sayap militer Gerakan Jihad Islam Palestina, menyatakan bertanggungjawab atas aksi kepahlawanan yang menggoncang kota Netaniya tersebut. Menurut pernyataan dari pihak Jihad Islam, pelaku aksi syahid tersebut adalah asy Syahid Rami Jamil Ghanim (20) berasal dari Deir Ghasun, Tulkarem. Dalam pernyataan resminya Martir al Quds menegaskan bahwa aksi tersebut sebagai balasan tindak kebiadaban penjajah Israel terhadap rakyat Palestina, sekaligus sebagai hadiah buat rakyat dan pejuang Islam di tanah Iraq. Hal ini untuk membuktikan adanya kesatuan antara pertempuran yang terjadi di Palestina dengan di Irak dalam menghadapi Amerika Zionis Israel yang ingin mengenyahkan bangsa Arab dan Umat Islam. Juru bicara Jihad Islam, Abu Imad al-Rifai memberi konfirmasi bila pasukan syahid yang reputasi berani matinya tidak perlu diragukan itu bukan saja datang dari Palestina. Namun juga dari berbagai belahan bangsa. Sebagai dari mereka telah datang ke Iraq dan sebagian lagi akan datang belakangan, ujarnya Secara resmi, Brigade Martir al Quds menegaskan bila sebagain anggotanya telah sampai di kota Baghdad untuk bahu membantu rakyat Iraq mengusir para agresor Amerika dan sekutunya. Ancaman bom syahid ini memang cukup membuat AS keder. Dalam briefing di Pentagon, Markas Pertahanan AS, Wakil Direktur Operasi Kerja Sama Staf Mayor Jenderal Stanley McChrystal mengatakan, pihaknya sangat memprihatinkan serangan bom bunuh diri Irak. Dia menuding serangan model itu adalah aksi terorisme. Dan, untuk menghadapi taktik itu, Pentagon akan menggunakan penyesuaian strategi, teknik, dan prosedur untuk memastikan keadaan benar-benar aman. Tapi langkah itu diyakini tak akan mempengaruhi operasi secara keseluruhan. Sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya, serangan bom syahid yang dilancarkan seorang perwira di pintu pemeriksaan Kota Najaf, Irak, Sabtu pekan silam telah menewaskan lima prajurit AS. Sesudah kejadian itu, seorang sopir Iraq dikabarkan telah menabrakkan truknya pada rombongan pasukan AS yang tengah latihan berbaris. 15 orang tentara AS luka berat akibat digilas truk dalam kejadian tersebut. AS dan sekutunya mungkin tidak pernah akan membayangkan sebelumnya berbagai keberanian pasukan berani mati ini. Yang jelas, efek dari bom syahid ini setidaknya telah membuat sebagai pasukan Inggris gemetar. Minggu lalu (30/3), seperti dikabarkan The Mirror, dua orang pasukan serangan udara Inggris unit 16 yang tidak mau ikut serangan membunuh warga sipil. Kedua orang tersebut beberapa hari lalu sudah pernah ditugaskan dalam penyerangan di wilayah Selatan Irak. Mirror juga menyebutkan bahwa kedua prajurit itu rencananya akan dipulangkan ke kesatuan mereka di Colchester karena dianggap tidak mentaati perintah karena menolak perang. Masyarakat Inggris nampaknya juga telah mulai gelisah. Berbagai tulisan di harian setempat isinya sangat menekan pemerintah untuk segera memulangkan pasukannya yang telah digunakan mendukung pemerintah AS menyerang Iraq bila sampai masa enam bulan Iraq tidak bisa dijatuhkan. (Ip/BBC/Reuter/cha)