Hidayatullah.com–Kapt. AD Milo Maestrecampo, di antara pemimpin yang ditahan dari pemberontakan 27 Juli, Minggu (17/8), kemarin, mengatakan di depan komisi penyelidik Senat yang ditayangkan dalam satu siaran nasional televisi, bahwa komandannya telah memerintahkan untuk melemparkan granat ke masjid-masjid di Davao City sebagai pembalasan terhadap serangan gerilya pejuang Muslim.
Maestrecampo mengatakan dia tidak mengikuti perintah tersebut, namun masjid-masjid itu mengalami serangan kemudian. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu siapa yang melakukan serangan itu, namun dia menduga sejumlah prajurit lain yang mematuhi komando pimpinannya.
Dia mengatakan perintah itu dikeluarkan tidak lama setelah serangkaian serangan bom yang mematikan di bandara dan di sebuah gudang di Davao, kota mayoritas berpenduduk Kristen di Filipina Selatan. Front Nasional Islam Moro (MILF) ikut dipersalahkan sebagai pelakunya.
Para pejabat militer mengatakan mereka akan menyelidiki pernyataan Maestrecampo, dan yang lainnya oleh para perwira dan prajurit pembangkang.
Jurubicara MILF Eid Kabalu mengatakan banyak warga Muslim yang terkejut dengan pernyataan itu dan ditambahkannya bahwa kelompoknya akan meningkatkan kekhawatiran ketika para pemberontak melanjutkan perundingan damai dengan pemerintah.
“Inilah sebabnya mengapa perang di Mindanao mungkin tidak akan berhenti dalam waktu dekat,” kata Kabalu.
“Mereka (para prajurit) tidak punya keinginan untuk menghargai siapa yang hidup di sini. Mereka tidak peduli sama sekali,” kata Kabalu.
Abhoud Syed Lingga, ketua kelompok Muslim lainnya, Bangsa Moro People Consultative Assembly, mengatakan pernyataan Maestrecampo merupakan keluhan kejahatan militer terhadap warga Muslim, yang kini punya alasan lain untuk memperjuangkan kemerdekaan negara Islam di Filipina Selatan. (wpd/afp)