Hidayatullah.com–Beberapa negara maju seperti AS, Inggris, dan Jerman akan menghadiri pertemuan tersebut untuk mencari solusi terhadap meningkatnya harga minyak dunia belakangan ini.
PM Inggris Gordon Brown, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden AS juga telah dijadwalkan untuk hadir dalam pertemuan itu, meski belum dipastikan benar rencana kedatangan para pemimpin tersebut.
Dalam kesempatan terpisah, Kementerian Energi Jepang mengatakan bahwa PM Jepang, Yasuo Fukuda, dipastikan menghadiri pertemuan itu.
Jepang merupakan salah satu importir minyak terbesar dunia karena kekuatan ekonomi Asia itu sebenarnya tidak memiliki sumber-sumber energi alam. "Saya pikir saya harus berangkat. Begitu juga perdana menteri," kata Menteri Industri, Perdagangan dan ekonomi Akira Amari kepada pers seputar pertemuan Jeddah.
Arab Saudi merencanakan mengadakan pertemuan setelah harga minyak mencapai rekor tinggi hampir 140 dolar per barel pekan lalu, dengan alasan kekhawatiran cadangan yang memicu pertumbuhan ekonomi melemah dan naiknya inflasi global.
Amari mengatakan bahwa Arab Saudi telah mengundang Fukuda untuk menghadiri pertemuan di negara produsen minyak utama dunia itu. "Kantor Perdana Menteri tengah mempelajari kemungkinan Fukuda menghadiri pertemuan itu," kata Amari.
Fukuda bekerja untuk perusahaan minyak selama 17 tahun, sebelum ia memasuki kancah politik menyusul jejak ayahnya, Takeo Fukuda, yang juga menjadi Perdana Menteri Jepang pada 1976-1978.
Arab Saudi menyerukan diadakan pertemuan negara-negara produsen dan konsumen minyak pada 22 Juni mendatang di Jeddah untuk membicarakan berbagai langkah yang terkait dengan harga energi yang terus melonjak.
New York Times melaporkan akhir pekan lalu, mengutip analis dan trader yang tidak bersedia disebut namanya, bahwa kenaikan produksi Arab Saudi sekitar 500.000 barel per hari akan diumumkan menyusul pertemuan tersebut.
Produsen minyak terbesar anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) itu saat ini memproduksi 9,45 juta barel per hari setelah pengumuman peningkatan 300.000 barel per hari bulan lalu menyusul kunjungan Presiden AS George W Bush ke negara kaya minyak itu.
Laporan Arab Saudi akan menambah produksinya itu muncul di tengah-tengah gencarnya tekanan terhadap negara-negara anggota OPEC, yang memompa sekitar 40 persen dari produksi dunia, untuk meningkatkan produksinya.
Harga minyak mentah telah mencapai rekor tinggi, melampaui 139 dolar per barel pada 6 Juni lalu setelah melonjak hampir 11 dolar dalam perdagangan sehari saat itu.
Presiden Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Chakib Khelil, mengatakan bahwa OPEC belum akan membuat keputusan baru mengenai tingkat produksi sampai pertemuan 9 September mendatang di Wina.
Dari Washington dilaporkan, pihaknya tidak dapat berharap bahwa pertemuan antara para produsen dan konsumen minyak utama di Jeddah akhir pekan ini akan menghasilkan suatu komitmen untuk menaikkan produksi.
"Kami belum bisa memperkirakan hasil dari pertemuan ini untuk mengumumkan penambahan produksi," kata juru bicara Gedung Putih Tony Fratto kepada AFP.
Ia mengatakan, Presiden AS George W Bush akan konsultasi dengan para penasihatnya Selasa, setelah ia kembali dari lawatan ke Eropa, untuk memutuskan siapa yang akan mewakili Amerika Serikat pada pertemuan itu.
Fratto menyambut baik pengumuman Sekjen PBB Ban Kim-Moon bahwa Arab Saudi menyatakan kepadanya akan meningkatkan lagi produksi minyaknya dengan 200.000 barel per hari pada Juli. [sk/hidayatullah.com]