Hidayatullah.com–Tokoh liberal dunia Arab Hassan Hanafi, meninggal pada hari Kamis dalam usia 86 tahun. Hanafi adalah profesor filsafat di Universitas Kairo. Hanafi lahir di Kairo pada 13 Februari 1935, dan menerima gelar Bachelor of Arts di Departemen Filsafat pada tahun 1956. Ia juga belajar bermain biola ketika ia masih muda.
Sejak 1967, ia menjadi profesor filsafat di Kairo. Ia juga mengunjungi beberapa universitas di Prancis, Amerika Serikat, Belgia, Kuwait, dan Jerman.
Hanafi memperoleh gelar master dan kemudian gelar doktor dari Universitas Sorbonne pada tahun 1966. Ia pernah bekerja di Universitas Muhammad Bin Abdullah di Fez selama dua tahun (1982-1984), kemudian pindah bekerja di Universitas Tokyo di Jepang antara (1984-1987), dan bekerja sebagai konsultan untuk program penelitian ilmiah di Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Tokyo.
Hanafi kembali ke Kairo pada tahun 1987. Hanafi menulis beberapa buku, di antaranya berjudul Warisan dan Pembaruan, Dari Transfer ke Kreativitas, Ensiklopedia Peradaban Arab, Dialog Timur dan Maghreb, dan lain-lain.
Hassan Hanafi juga pernah memperoleh penghargaan sebagai Pemikir Liberal dari Polandia. Hanafi dimakamkan pada hari Jumat di pemakaman keluarga di Kairo, kutip Gulf News.
Putranya, Hatem, sebelumnya mengatakan peti mati ayahnya akan dibawa dan dipindahkan ke almamaternya, Universitas Kairo, sebagai tanda perpisahan sebelum pemakamannya.
Ia adalah salah satu tokoh liberalisme di dunia Arab yang kontroversial. Di antara pemikiran nyelenehnya adalah sekularisme adalah dasar wahyu, juga ketidaksetujuan pada ayat-ayat pengharaman, kata As-Salam (perdamaian) lebih baik daripada Islam, lafaz-lafaz usul fikh memperalat manusia, tidak ada kesucian pada Al-Quran dan Hadist, hijab adalah hambatan.
Tokoh-tokoh liberal ini sering menjadi rujukan kaum liberal di Indonesia. Selain beberapa nama tokoh liberal dunia Arab sepeti; Muhammad Arkoun, Muhammad Abid al-Jabiri, Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, Faraj Fauda, Muhammad Asymawi, Fuad Zakariya, Muhammad Syahrur, Sadiq Jalal ‘Azm, Fatima Memisi, dan Amina Wadud.
Selain itu, ada juga Tayyib Tizini, Sadiq Nayhum, Abdul Majid al-Syarafi, Hisham Ja’idz, Hisyam Syarabi, Muhammad Mahmud Thaha, Abdullah A An-Naem, Abdul Kariem Shourush, Abdullah ‘Arwi, Fajrul Rahman, dan Khalid Abu Fadl.
Bagi pengagum liberalisme di Indonesia, Hassan Hanafi dianggap tokoh pembaharu dan pemikir Islam. Pakar pemikiran Islam dari INSISTS, Dr Nirwan Syafrin mencatat, paham liberal yang dibawanya adalah pemikiran transnasional.
“Karena liberalisme sendiri juga diimpor dari Barat, maka Islam liberal itu juga bukan muncul dari budaya kita tapi mereka impor dari luar negerai ke dunia akademis,” katanya kepada hidayatullah.com.*
Baca: Dr Nirwan Syafrin: Pemikiran Liberal di Indonesia Semuanya Impor dari Luar