Hidayatullah.com–Penutupan paksa kantor berita Aljazeera cabang Tepi Barat Palestina hari Rabu oleh pemerintah setempat menimbulkan polemik. Pasalnya, konstribusi media terbesar Timur Tengah tersebut sangat besar dan nyata bagi warga Palestina sendiri.
Dalam situs resminya www.aljazeera.net mayoritas pengunjung menyayangkan tindakan tersebut dengan menyebutnya “keterburu-buruan” dan “kesalahan fatal”, tidak memihak pada kebebasan pers dan mengabaikan kepentingan warga Palestina sendiri.
Banyak dari mereka meminta pihak Aljazeera untuk segera mengusut tindakan pemerintah Palestina yang ditengarai telah membunuh karakter bangsanya sendiri.
Penutupan paksa seperti ini bukan yang pertama dialami Aljazeera, hal serupa pernah terjadi di Jordan, Mesir, Saudi Arabia, Maroko dan terakhir di Palestina.
Kecemburuan pemerintah setempat pada rating Aljazeera yang terus melonjak naik, bahkan berhasil menyedot hampir 60% penonton di seluruh Timur Tengah mengalahkan channel resmi pemerintah yang hanya ditonton 5%, menjadi alasan mengapa Aljazeera selalu disingkirkan. Belum lagi acara-acaranya yang dinilai cukup berani menggoyang kemapanan elit politik pemerintah.
Tayangan eklusif berupa debat, dokumenter, dan siaran langsung dari TKP yang disajikan dengan cepat dan akurat dianggap sangat membahayakan banyak kalangan. Tak jarang, kebenaran berita yang selalu disembunyikan oleh media-media Barat berhasil mereka ungkap. Beberapa pengamat pers menilai Aljazeera sebagai media paling obyektif yang ada di Timur Tengah saat ini.
Sebelum aksi penutupan, Aljazeera sempat mewawancarai orang penting kedua di fraksi Hamas yang kini berada di pengasingan, Farouk al-Qadumy, yang memberi pernyataan bahwa PM Palestina saat ini, Mahmud Abbas bersama Muhammad Dahlan dan mantan PM Israel, Ariel Sharon yang dinilah pernah terlibat konspirasi membahayakan yang menyebabkan tewasnya pemimpin Palestina waktu itu, Yasser Arafat di rumah sakit Paris tahun 2004.
Banyak warga Palestina percaya bahwa Arafat dibunuh dalam sebuah persekongkolan yang melibatkan Israel, meski tuduhan itu ditolak pihak Israel. Sementara itu, otoritas Palestina dukungan Amerika, Mahmud Abbas menganggap berita ini adalah fitnah dan hasutan.
Masalah ini boleh jadi menjadi indikasi pemerintah Abbas untuk menutup kantor berita Aljazeera di Palestina. Sementara aksi penyegelan di sejumlah negara Arab sebelumnya lebih didasari ancaman mantan Presiden Amerika, Goerge W Bush, dan mantan PM Inggris Tony Blair yang akan mengebom kantor-kantor berita Aljazeera.
Sebagaimana diketahui dalam Pemilu demokratis, mayoritas warga Palestina mendukung Hammas. Namun Amerika dan Israel menolak dan mendelegasikan pemerintahan kepada Mahmud Abbas yang dinilah lebih dekat dengan Israel. [numes/nytimes/cha/hidayatullah.com]