Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Demokrasi Afghan, Antara Kecabulan dan Kesundalan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Agustus 2009 19:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Delapan tahun setelah invasi AS yang menjanjikan kemajuan dan kemerdekaan, warga Afghan melihat demokrasi ala Barat sebagai nama lain dari pencabulan dan perzinahan.

“Saya melihat tanda demokrasi pada pelanggan-pelanggan saya, yaitu terbukanya tangan dan leher mereka,” ujar Mansur Aslami, 21, pemilik toko kosmetik kepada AFP (4/8).

Ia juga mendefinisikan demokrasi sebagai anak lelaki dan perempuan jalan bersamaan di jalan, dan tidak dipertanyakan lebih lanjut.

Banyak warga Afghan yang telah beralih kepada budaya asing yang diimpor dari AS, negara yang telah memporakporandakan Afghan pada 2001 saat invasinya dengan alasan menggulingkan Taliban.

“Aku tidak tahu apa makna demokrasi,” ujar Noor Ali, penduduk Kabul yang kini berusia 81 tahun. “Aku hanya tahu bahwa ketika aku bertanya kepada seorang wanita. ‘kenapa kamu keluar dengan dandanan hampir telanjang,’ kemudian wanita itu menjawab, ‘Paman, inilah demokrasi.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Sebagian besar dari 13 channel TV lokal di Afghanistan, terus memutar musik-musik dan film Barat dan mengabaikan kritik yanng mengingatkan bahwa program mereka telah jauh berlari dari nilai Islam.

“Demokrasi Barat adalah kebebasan dan persundalan (zina),” terang Wasim, seorang pelayan berumur 28 tahun yang bekerja di restoran kebab di Kabul.

Keburukan Demokrasi

Ali, seorang sesepuh di Kabul, menyatakan kritiknya terhadap budaya baru yang kini menyentuh hampir seluruh lapisan masyarakat di Afghan.

“Apakah ini demokrasi? Menari, mempertontonkan kulit, dan memperkosa?” celanya. “Jika ya, seharusnya budaya itu tak boleh masuk ke Afghan.”

Pendapat Ali tersebut diiyakan oleh Wasim. “Ini demokrasi menurut Amerika dan Eropa. Dan sekarang, hal itu juga berkembang di sini.”

Wahid Mujda, seorang analis, mengatakan bahwa trend yang berkembang di negara berbudaya Islam seperti Afghan, telah menyebabkan kebingungan.

“Ketika kami menanyakan apa itu demokrasi, masyarakat Afghan cenderung menganggapnya sebagai kurangnya kesopanan dan hidup tanpa agama.”

Namun, Muhammad Halim (25), percaya bahwa pemilihan presiden dan wali provinsi, akan menawarkan pencerahan baru kepada Afghan. Dan membawa Afghan ke alam demokrasi yang sebenarnya.

“Aku akan memberikan suaraku kepada orang yang akan melayani dan bersetia kepada Islam dan negara,” tegasnya,

“Kami berhak menentukan nasib kami.” [atj/iol/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ja’far Umar Thalib: NU Jangan Terpancing Isu Wahabi
Tulisan selanjutnya Depag Akan Bangun 300 KUA di Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Gantung Dua Demonstran Antipemerintah

Berita
30 September 2026 19:02
Pilot Flydubai Berkelahi Saat Terbang Menuju Tel Aviv, Pesawat Mendarat Darurat di Tabuk Arab Saudi
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Mahathir Mohamad Dilarikan ke RS Sehari setelah Istri Meninggal Dunia
Gemini AI Milik Google Bisa Melakukan Serangan Siber, Menebak Kata Sandi

Terbaru

  • MUI: Wajib Halal Oktober 2026 Bagian dari Pemenuhan Hak Masyarakat
  • LPPOM Dorong Restoran Terbuka soal Status Halal Setiap Outlet
  • Jurnalis Ini Dipenjara Usai Kritik Menteri India soal Pembongkaran Masjid
  • Bertemu tim ‘Israel’, Pemain Catur Terbaik Australia Pilih Boikot
  • Sebut Netanyahu Penjahat Perang, Tapi Qatar Tetap Pilih Mediasi
  • Intelijen Inggris Peringatkan Akademisi Supaya Putuskan Hubungan dengan Institusi China
  • Pentagon Bilang Pasukan Amerika Serikat dan Sekutunya Resmi Mengakhiri Misi di Iraq
  • Pilot Flydubai Berkelahi Saat Terbang Menuju Tel Aviv, Pesawat Mendarat Darurat di Tabuk Arab Saudi
  • Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!
  • Iran Gantung Dua Demonstran Antipemerintah

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?