Hidayatullah.com–Minoritas muslim Italia, di tengah derasnya kampanye anti Islam yang dihembuskan oleh kelompok politisi sayap kanan, tetap menikmati suasana Idul Fitri 1430 H yang berlangsung beberapa hari yang lalu. Misalnya di Milan, nuansa kekeluargaan sangat jelas terasa.
Seperti dilansir Islamonline.net (22/9), ratusan jamaah berdesak-desakan memenuhi aula gedung Islamic Center di Milan yang memang memiliki daya tampung sangat terbatas.
“Diterpa berbagai kesulitan, umat Islam di Milan tetap menikmati suasana Idul Fitri tahun ini,” sebut Ali Abu Shwaima, Direktur Islamic Center Milan. “Lebaran adalah hari istimewa. Jadi kami tak mau melewati suasana bahagia ini begitu saja. Anak-anak kami terutama, harus melewati hari-hari suci ini dengan riang. Segala kesulitan dan tantangan hidup harus dilewati dengan hati tenang. Tak ada yang perlu disedihkan di hari ini.”
Idul Fitri di Italia dan Eropa umumnya, berlangsung hari Minggu 20 September. Selepas shalat Id, jamaah terlihat saling bersalam-salaman dan dilanjutkan suguhan aneka hiburan islami, sembari menikmati hidangan khas ala kadarnya.
Acara berlangsung meriah dan jamaah tak ada yang tergesa-gesa meninggalkan arena shalat. Sebab, secara kebetulan, Idul Fitri berlangsung pada hari libur.
Jika saja terjadi pada hari-hari kerja, maka dapat dipastikan sebagian besar jamaah bersegera berangkat ke kantor. Begitu pula dengan mahasiswa, menuju ke kampus masing-masing. Karena –seperti negara-negara di Eropa lainnya terkecuali Austria– tak ada libur khusus bagi umat Islam.
Seperti halnya di tanah air, muslim Italia juga saling bersilaturahmi antara sesama keluarga dekat, karib kerabat dan teman sejawat. Anak-anak mengenakan pakaian terbaru mereka dan saling bertukar kado hadiah lebaran. Sebagaiannya ada juga yang berkumpul di taman-taman dan tempat-tempat lainnya.
Jamaah membludak
Patut diketahui, jauh sebelum lebaran, umat Islam di Milan telah merencanakan melaksanakan shalat Id di lapangan terbuka. Sebab ruangan Islamic Center sangat terbatas, sementara jumlah jamaah shalat membludak.
Kantor Walikota Milan menolak proposal yang diajukan otoritas muslim setempat. Proposal itu berisi permohonan untuk menggunakan gedung olahraga kota mode itu untuk dijadikan arena shalat Id. Gedung itu lumayan besar hingga mampu menampung jamaah dalam jumlah besar.
Pemda Milan beralasan, gedung tersebut pada hari yang sama, telah dibooking untuk rapat oleh sebuah partai politik lokal. Menyikapi hal itu, selanjutnya pimpinan muslim beralih ke sebuah ruangan terbuka milik sebuah bar.
“Namun rencana itu tidak jadi, sebab dari ramalan cuaca diprediksi bakal turun hujan,” kata Abu Shwaima. Menghadapi semua halangan ini, akhirnya otoritas muslim Milan memutuskan mengadakan shalat Id di gedung Islamic Center. “Kami tak punya pilihan lain. Satu-satunya ya Islamic Center ini. Walau kapasitasnya terbatas, kami akan memanfaatkan setiap inci ruangan ini untuk mengakomodasi jamaah yang melimpah,” tukas Abu Shwaima.
Masa-masa sulit
Sejak Silvio Berlusconi memimpin Italia, umat Islam di sana menghadapi sedikit tantangan. Pasalnya, partai pimpinan PM Italia itu berkoalisi dengan Northern League (NL), sebuah partai sayap kanan bergaris keras. “Sekitar 18 bulan ini, sejak NL bergabung dengan partai pemerintah, kami mendapat halangan yang cukup berarti.”
“Di antaranya, ditolaknya pembangunan masjid yang representatif bagi kegiatan harian, begitu juga dengan larangan perayaan hari-hari besar Islam,” cerita Abu Shwaima.
Jumlah warga muslim di Milan diprediksi sekitar 100.000 jiwa. Hingga kini mereka masih berpindah-pindah tempat shalat karena belum memiliki tempat tetap (baca: masjid) untuk shalat. Selama hampir dua tahun mereka berganti tempat.
Misalnya, mereka pernah menyewa ruangan olahraga, lalu kamar di sebuah gedung sepakbola. Saat shalat Jumat misalnya, saking sempitnya, jamaah meluber. Hingga sebagiannya shalat di luar ruangan. Berdesak-desakan di atas paving blok
Bulan lalu, otoritas muslim Milan sempat berencana menyewa sebuah aula khusus untuk shalat Jumat. Namun batal sebab biaya sewa mencekik leher. Mereka mesti bayar 5.000 Euro per hari hanya untuk shalat Jumat saja!
Di samping biaya sewa yang mahal, upaya itu juga ditentang oleh pihak Northern League. Patut dicatat, Northern League sejak lama dikenal dengan paham rasisme yang dibawanya.
Partai garis keras ini bahkan sering disebut sebagai BNP-nya Italia. BNP atau British National Party adalah sebuah partai nasionalis sayap kanan di Inggris, yang juga kerap menentang aspirasi umat Islam di negeri Ratu Elizabeth itu.
Isu-isu negatif
Dalam setiap kampanye pemilu, mereka kerap menyuarakan isu-isu negatif berkaitan dengan imigran asing, misalnya aksi kriminal, imigran illegal, ekonomi dan budaya yang dibawa para imigran yang dianggap merusak budaya mereka.
Bahkan, guna meraih simpati massa, NL ini mengidentikkan dirinya sebagai penjaga agama Kristen. Misi yang mulai berjalan sejak pemerintahan baru terbentuk Mei 2008 silam itu tergolong berhasil. Buktinya mereka sukses menggagalkan rencana pendirian sebuah masjid di utara kota Verona. Bahkan September 2008 silam, NL girang dengan suksesnya kampanye mereka menghentikan pembangunan masjid di kota Bologna.
Tahun lalu, pemimpin tertinggi NL Mario Borghezio, dalam sebuah pidato di sebuah gereja di kota Genoa meneriakkan slogan-slogan anti-Islam.
Menurut catatan Wikipedia, sejarah Islam di Italia sebenarnya telah bermula sejak abad ke-9 tatkala terjadinya ekspansi negara-negara Afrika Utara yang menguasai Sisilia dan beberapa negara bagian lainnya di semenanjung Italia. Dari tahun 828 hingga 1300 Masehi muslim menguasai kawasan tersebut. Setelah itu, mengutip Wikipedia, hingga tahun 1970-an pengaruh Islam seakan hilang di Italia.
Di awal 1970-an, imigran muslim asal Somalia pertamakali mulai menginjak tanah Italia. Diikuti muslim Albania. Selanjutnya mulailah berdatangan secara berombongan dari Maroko, Mesir dan Tunisia. Awalnya mereka datang untuk membangun Italia dari kehancuran pasca Perang Dunia II.
Kini, kendati Islam tidak secara resmi diterima oleh pemerintah Italia, namun Islam menjadi agama terbesar kedua setelah Katolik. Populasi warga muslim saat ini, menurut catatan badan statistik Italia tahun 2005, tercatat ada sekitar 2,4 juta jiwa. 50.000 di antaranya adalah muallaf asli Italia.
Menariknya, menurut catatan pemerintah, hampir 40% imigran Italia adalah illegal. Hal ini tentu saja jadi santapan empuk kampanye anti imigran yang disuarakan kalangan sayap kanan, seumpama Northern League. Berkaitan dengan keberadaan masjid, mereka beralasan bahwa orang Islam bisa shalat “di mana saja” dan tak perlu ada masjid. Begitulah. Wallahu a’lam bisshawab. [Zulkarnain Jalil/iol/hidayatullah.com].