Hidayatllah.com–Tidak terasa kini Council on American Muslim Relations (CAIR), organisasi Muslim di Amerika itu, kini genap berusia 15 tahun, tepatnya tanggal 24 Oktober kemarin.
“Organisasi ini dan komunitasnya telah berkembang begitu dahsyat dari segi ukuran dan pengaruhnya, dibandingkan ketika awal CAIR didirikan,” kata Nihad Awad, Direktur Eksekutif yang juga salah seorang pendirinya kepada IOL.
“Orang-orang Islam kini merasa ada organisasi yang bisa membela hak-hak mereka.”
Perayaan milad yang diberi tema “Memimpin Perubahan … 15 Tahun Berkiprah” dihadiri oleh ratusan masyarakat Muslim dari berbagai kalangan. Para pemimpin Muslim, aktivis, pejabat pemerintah, dan juga anggota Kongres menghadiri acara itu.
Tampak pula perwakilan dari komunitas agama-agama lainnya, termasuk di antara mereka adalah aktivis sayap kanan terkemuka pendeta Jesse Jackson dan tokoh Yahudi rabi Steven Jacobs.
Didirikan pada tahun 1994, CAIR yang merupakan organisasi akar rumput nirlaba mendirikan kantor pusatnya di Washington DC. Sebanyak 35 kantor dan cabangnya kini merambah seluruh kawasan AS dan Kanada.
CAIR didirikan untuk memberikan pemahaman yang baik dan benar tentang Islam, mengedepankan dialog, melindungi hak-hak sipil, memperkuat Muslim Amerika, dan membangun kerjasama untuk keadilan dan saling pengertian.
Limabelas tahun perjalanan CAIR menjadi sebuah organisasi Muslim di Amerika yang besar dan disegani, tidaklah mudah.
“Jalannya tidak pernah penuh dengan bunga,” kata Awad.
Ibrahim Hooper, Direktur Komunikasi CAIR, setuju dengan Awad. “Ada banyak tantangan sejak hari pertama kami berdiri di depan hotel tempat seorang wanita dipecat karena mengenakan jilbab, hingga ribuan kasus, editorial dan wawancara media yang telah kami lewati,” kata Hooper menggambarkan dengan singkat perjuangan CAIR.
Awad masih ingat ketika di awal dulu banyak Muslim enggan untuk bergabung, karena ragu dan tidak yakin jika mereka akan berhasil.
“Kami telah membuktikan jika mereka keliru. Sistem ini bisa berjalan untuk kepentingan mereka, tapi mereka juga harus tampil dan harus terorganisasi, serta bertindak,” katanya.
Seiring waktu, CAIR telah berhasil membangun komunikasi yang baik dengan media. Mereka juga menyelenggarakan ratusan seminar di seluruh Amerika dan semakin terampil membuat press release.
“Limabelas tahun lalu hanya kami sendiri yang bisa mengeluarkan press release atau bekerjasama dengan media. Sekarang setelah kami melatih begitu banyak orang dan orang-orang juga semakin dewasa, juru bicara masjid kecil di seluruh negeri bisa membuat pres rilis, menghubungi media, dan bekerjasama dengan pejabat-pejabat di pemerintahan,” kata Hooper mengenang.
“Kita berada di posisi yang lebih baik untuk terus maju ke tingkat selanjutnya,” demikian kata Larry Shaw, salah seorang pemimpin di CAIR yang juga senator senior dari North Carolina.
Meskipun demikian, media masih menampakkan wajah garangnya kepada CAIR. Terutama media yang dikelola oleh kelompok sayap kanan yang sering mengaitkan CAIR dengan kelompok teror.
FBI bahkan juga mencurigai mereka mempunyai hubungan dengan kelompok-kelompok yang dianggap AS radikal.
“Mereka memanfaatkan peristiwa-peristiwa tidak mengenakkan yang melibatkan sebagian Muslim yang bukan dari komunitas kami,” kata Awad seraya menambahkan bahwa hal itu seringkali dijadikan alasan untuk menggeneralisasi Muslim.
Namun, tentu CAIR tidak akan mudah patah arang. “Kami tidak takut dan kami tidak merasa diintimidasi. Tekanan-tekanan itu tidak seharusnya menghalangi kami dari melakukan hal yang benar.”
“CAIR adalah pemadam api. Ia akan terus melawan api kebencian dan kesombongan, dan akan mendekati semua orang dengan kasih sayang, sebagaimana yang diajarkan oleh agama kita,” pungkas Awad. [di/iol/hidayatullah.com]