Hidayatullah.com–Serangan udara pasukan sekutu pada gedung pemerintahan milik penguasa Libya Muammar Qadhafi di ibukota Tripoli dilaporkan menghancurkan pusat “kekuasaan” dan kontrol pemerintahan.
Perwakilan dari pasukan militer melaporkan, hari Senin sebuah misil mengenai halaman tertutup di Tripoli di mana rumah Qadhafi berada, menghancurkan bangunan tersebut secara menyeluruh, seperti yang dilaporkan AFP.
Bangunan hanya 50 meter jaraknya dari tempat tinggal Qadhafi diburu, di Bab al-Azizia.
Sebelumnya, Dewan Keamanan PBB meloloskan resolusi tahun 1973 Kamis, yang mengizinkan tindakan militer melawan Libya untuk menjalankan zona larangan terbang di Negara tersebut.
Pada hari Sabtu, Prancis, Inggris dan AS memulai serangan udaranya ke Libya, menembakkan lebih dari 120 misil milik Tomahawk Cruise dan melakukan pengeboman pada target-target kunci milik Libya.
Amerika Serikat dan Inggris mengatakan serangan udara telah “sukses” dan zona larangan terbang sekarang “dijalankan.”
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Amerika, Admiral Michael Mullen, mengatakan langkah selanjutnya tergantung pada apa yang akan dilakukan Qadhafi.
Semantara itu, pemerintahan Barack Obama mendapat kritik di negaranya jika ia tidak memiliki tujuan yang jelas dan alasan yang cukup dalam menyerang Libya.
Jurubicara Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast mengatakan pada hari Ahad bahwa kekuatan barat yang dominan berusaha menempati negara-negara lain untuk mendapatkan kepentingan-kepentingan mereka dengan dalih mendukung perjuangan rakyat.*