Hidayatullah.com—Al ikhwan al Muslimun Mesir membuka markas baru di Kairo setelah 60 tahun dilarang, dalam sebuah upacara yang dihadiri oleh pejabat dari Partai Islam Turki.
Beberapa tamu asing, Hasan Bitmez dan anggota Dewan Oğuzhan Asiltürk yang termasuk tokoh politik dari Mesir, Jordan, Malaysia, Nigeria, Somalia dan Turki menghadiri upacara pembukaan di daerah Moqattam bersama para intelektual Mesir.
“Selama 60 tahun kami dianggap sebagai kelompok ilegal, kami dirazia dan ditahan oleh polisi sepanjang waktu, tetapi sekarang kami memiliki markas secara legal dan bahkan kami memasang logo Al Ikhwan al Muslimun di kursi,” ujar salah satu pemimpin Ikhwanul Muslimin, Dr. Ashraf Abdulgaffar mengatakan pada Hürriyet Daily News pada hari Minggu.
Bitmez mengatakan, al Ikhwan al Muslimun akan memainkan peran penting untuk masa depan Mesir, tulis kantor berita Anatolia melaporkan.
Koleganya, Asiltürk, mengatakan hal ini merupakan sesuatu yang sangat baik karena Ikhwan saat ini memiliki markas di Kairo setelah waktu yang sangat lama.
Pemimpin Al Ikhwan al Muslimun, Dr. Muhamad Badie yang memimpin pembukaan markas baru ini mengatakan jika tujuan dari kelompok itu adalah “memiliki pemerintahan sipil yang berdasarkan Islam.”
Dr. Abdulgaffar mengatakan Ikhwan saat ini memiliki kantor di 26 kota dan bertujuan untuk memiliki satu kantor di setiap kota di Mesir.
Dibentuk oleh seorang guru Hassan Al Banna di kota Suez Canal, Ismailia di tahun 1928, Ikhwan merupakan salah satu gerakan tersukses yang membela Islam dalam program politik dengan konteks modern.
Dalam 20 tahun perkembangan pergerakan ini telah memiliki lebih dari 500.000 anggota, dengan beberapa cabang di Negara arab lainnya.
Pemerintah Mesir melarang gerakan ini di tahun 1954 setelah tuduhan atas percobaan pembunuhan Presiden Gamal Abdel Nasser, pembelaannya selalu ditolak.
Pergerakan ini juga menggunakan sebuah apartemen sebagai “pusat komunikasi” hingga Mantan pemimpin Mesir Hosni Mubarak diturunkan pada bulan Januari.*