Hidayatullah.com—Kantor siaran berita Aljazeera Mesir tiba-tiba berhenti setelah digerebek oleh polisi keamanan Mesir. Tak hanya menggerebek, aparat juga telah menyita lain laptop dan kamera. Selain itu, para karyawan al-Jazeera juga harus menyerahkan kartu pengenal mereka.
Aparat menggerebek kantor Aljazeera Ahad sore, minggu lalu. Wartawan Aljazeera yang menempati kantor studio di Giza mengatakan, mereka tidak menerima pemberitahuan resmi dari kementerian informasi sebelumnya.
Menurut Mahmud Abdul Moniem, editor berita Aljazeera, pihak berwenang telah menangkap anggota tim teknis saluran Aljazeera. Akibat peristiwa, kantor berita Timur Tengah di Mesir ini akhirnya berhenti siaran.
Dikutip Al Akhram, pemerintah telah memulai operasi inspeksi pada akreditasi hukum dari 16 saluran TV berita yang mulai berfungsi di Mesir setelah penggulingan Presiden Mubarak bulan Februari lalu.
Sumber yang dekat dengan Aljazeera mengaku, saluran ini dinilai telah bekerja tanpa akreditasi sepanjang tujuh bulan terakhir, tapi, sekali lagi, ketika mereka mencoba untuk mendapatkan perizinan, mereka tidak menerima jawaban apapun.
Ahmed Zain, seorang karyawan Aljazeera mengatakan, pada 11 September 2011 lalu, kantor berita ini sudah pernah digerebek oleh polisi.
Zain mengatakan, pihaknya sudah meminta ijin resmi melakukan siaran di negara ini bulan Maret lalu. Namun menurut Zain, pemerintah saat itu mengatakan mereka masih diijinkan terus bekerja sampai ijin keluar.
Aljazeera menjadi salah satu sumber terpecaya saat demo besar-besaran di Mesir hingga menyebabkan tergulingnya Rezim Mubarak.*