Hidayatullah.com–Impian homoseksual runtuh. Dulu mereka pikir, Belanda adalah tanah yang dijanjikan untuk kaum homoseksual. Pada 2001 pernikahan homo pertama di dunia diresmikan di negara ini. Namun sekarang makin banyak homo yang diancam dan jadi korban kekerasan.
Pasangan lesbian Robin dan Sam (keduanya disamarkan) tidak berani lagi bergandengan tangan di Amsterdam. Mereka akhirnya pindah ke daerah kristen Veluwe, Belanda Timur.
Tujuh tahun lalu mereka mengalami agresi untuk pertama kalinya. Waktu itu, mereka belum “berpacaran”, kata Robin. Suatu hari mereka berjalan bergandengan selayaknya pasangan dimabuk asmara.
“Seorang pria Maroko mendatangi kami dan bilang, ‘Siapa yang jadi pria dalam hubungan kalian?’ Dan karena saya muak sekali dengan anggapan mengenai ‘pembagian peran pria-dan-wanita’ – pacar saya Sam bercanda: saya yang jadi laki-laki. Kami tertawa. Lelaki itu kemudian berusaha memukul saya. Untungnya meleset dan tidak kena muka, tapi kena bahu saya. Sakit sekali,” ujarnya kepada Radio Belanda, RNW, (5/10/2011)
Makin dekat
Pasangan ini tidak pernah melaporkan insiden tersebut ke polisi. Sulit menerangkannya, kata Robin. “Apa yang harus kami laporkan? Saya dipukuli?” Juga ketika makin banyak agresi berdatangan, pasangan ini tak tahu cara menghadapinya.
“Di swalayan tempat saya dulu selalu belanja – saya mendingan nggak datang ke sana lagi – mereka mempermainkan saya. Bukannya rasis, tapi yang menggangu saya orang Maroko, orang Belanda keturunan Maroko. Mereka menghalangi dan memancing amarah saya. Saya pikir, ‘Saya diam saja.’ Saya belum tahu bagaimana cara mengatasinya. Saya jalan terus dan saya dengar, ‘Lain kali, kami akan tusuk kamu, pelacur kotor!’”
Di kotak posnya, Robin sering menemukan gambar-gambar laki-laki yang sedang melakukan hubungan seksual dengan perempuan. Ia terus-menerus merasa ia diikuti. Siapa pelakunya, tak jelas.
Tak berdaya
Ancaman terbukti mempengaruhi mereka. Robin dan Sam tak berani lagi mengakui orientasi seksual mereka di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Kami tidak bisa bergandengan tangan. Selalu berjarak. Satu di depan, satu di belakang. Begitulah kami berjalan di Amsterdam, dan kami sering menoleh. Jika kami berjalan melewati anak tongkrongan, kami berpikir, ‘Ups, ambil jalan lain saja, ah.’ Kami benar-benar takut,” cerita Sam.
Menurut Robin, perilaku menghindar mereka belum ada apa-apanya. Yang paling parah adalah perasaan tak berdaya bahwa mereka tidak bisa membela diri, harus menutup mulut.
“Jika kami bereaksi, mereka mungkin menggores mobil kami atau mengancam kami dengan pisau.”
Pindah
Sam lalu pindah ke Veluwe. Sebenarnya, ia tak ingin lagi menginjak Amsterdam. Tiap kali menyetir masuk ke Amsterdam untuk mengunjungi Robin, ia sesak napas. Robin, yang lahir dan besar di Amsterdam, ingin tinggal di sana sampai tua. Namun akhirnya Robin juga tidak tahan, ia lalu mencari rumah di Harderwijk, juga di Veluwe.
Teman-teman dan kenalan menertawakan keputusan mereka. Di daerah Harderwijk dan sekitarnya banyak orang Kristen yang secara umum, atas dasar agama, menentang homoseksualitas. Namun menurut Robin, ada ruang untuk diskusi, dan orientasi seksual mereka dihormati.
“Mereka memang hipokrit, sok suci. Di depan kami mereka bilang, ‘Ah, tidak apa-apa.’ Tapi mereka akan mengutuk anak-anak mereka jika anak-anak mereka homoseksual.”
Namun di Belanda timur, mereka tidak pernah diancam. Mereka merasa aman.*