Hidayatullah.com—Kasus penembakan 16 warga sipil oleh tentara Amerika di Afghanistan mengingatkan invasi besar-besaran pasukan asing di bawah pimpinan Amerika Serikat (AS) di negeri itu.
Pada 7 Oktober 2001, persis sebulan setelah serangan 11 September itu, pesawat-pesawat AS menjatuhkan puluhan rudal jelajah dan bom-bom yang dikendalikan laser ke sasaran-sasaran strategis di Kabul dan kota-kota lain Afghanistan.
Serangan itu diikuti dengan satu operasi di darat yang mengalahkan pejuang Taliban hanya dalam beberapa pekan. Taliban kemudian melarikan diri ke tempat-tempat persembunyian di Afghanistan dan Pakistan selama beberapa tahun tidak melakukan aktivitas, akibat invasi pasukan pimpinan AS itu.
Semenjak kehadiran pasukan asing, ada sekitar 140.000 tentara internasional di Afghanistan, sebagian besar dari mereka berasal dari Amerika Serikat, memerangi pejuang Taliban yang dimulai setelah mereka digulingkan dari kekuasaan oleh invasi asing pimpinan AS pada 2001.
Pasca hadirnya pasukan asing di Afghanistas, kehidupan warga sipil praktis terganggu. Bom bunuh diri, serangan warga sipil, penembakan warga bahkan pelecehan terhadap simbol-simbol agama oleh pasukan asing. Korban-korban terus berjatun meski serangan pasukan multi nasional melewati masa 10 tahun lebih.
Tahun 2010
Januari 2010, warga di Afghanistan marah dan turun ke jalan akibat seorang penduduk tewas atas serangan tentara Afghanistan dan NATO.
ISAF menyatakan, telah menewaskan empat pejuang, termasuk seorang laki-laki berusia 15 tahun dalam gerakan di daerah Qarabagh di propinsi Ghazni.
Tahun 2011
Bulan April: Protes Afghanistan terhadap pemusnahan kitab suci umat Islam telah berujung mematikan. Sekitar 20 orang tewas dalam beberapa hari aksi protes di seluruh Afghanistan setelah pendeta Amerika Terry Jones membakar sebuah al-Quran di gerejanya di Florida.
Bulan Mei: Pasukan asing yang dipimpin Amerika Serikat kembali menembak mati warga sipil Afghanistan dalam operasi militer yang dilakukan Rabu lewat tengah malam. Seorang pria dan seorang perempuan wanita tak bersenjata di Surkh Rud, Nangarhar, tewas di tangan pasukan International Security Assistance Force (ISAF), Rabu, (13/05/2011) kala itu.
Keesokan harinya, Kamis (12/05/2011) ISAF mengeluarkan pernyataan resmi yang menjelaskan kronologi kejadian menurut versi mereka.
Ketika pasukan tiba di tempat yang diduga menjadi tempat persembunyian seorang pemimpin Taliban, tentara menyuruh penghuni rumah untuk keluar secara damai, tulis ISAF dalam pernyataannya.
“Seorang pria mengancam petugas keamanan (anggota ISAF) dengan sebuah pistol. Pasukan keamanan membela diri, membunuh pria itu. Setelah dilakukan pemeriksaan awal, diketahui bahwa ia bekerja untuk Polisi Nasional Afghanistan,” dalih ISAF.
Setelah penembakan itu, ketahuan jika ISAF salah sasaran.
“Pasukan keliru mengidentifikasi apa yang mereka kira sebagai senjata yang dibawa oleh orang itu, lalu menembaknya. Belakangan diketahui bahwa orang itu adalah seorang wanita dewasa Afghanistan yang tidak bersenjata,” kata ISAF.
Tidak sekali ini pasukan asing selalu menggunakan dalih bahwa target sipil yang mereka tembak mati diduga membawa senjata dan akan melakukan perlawanan.
Seorang jurubicara dari provinsi setempat Ahmadzia Abdulzai mengatakan, pasukan asing tiba di tempat kejadian dengan helikopter pada tengah malam, membunuh seorang detektif polisi Afghanistan di rumahnya.
Bulan November: Satu serangan udara yang dilakukan tentara NATO telah menewaskan 27 pejuang di Afghanistan Timur. Serangan itu terjadi di provinsi Nangarhar, dekat perbatasan dengan Pakistan tempat pejuang memiliki persembunyian dan banyak dari pertempuran perang 10-tahun paling berdarah berlangsung di tempat itu.
Pekan sebelumnya, 70 pejuang Taliban tewas setelah mencoba untuk menyerang pos pasukan ISAF di provinsi timur Paktika, kata para perwira Afghanistan dan ISAF.
Tahun 2012
Belasan orang tewas akibat dari dampak pembakaran al-Quran tentara Amerika Serikat (AS) di Afghanistan pada bulan Pebruari 2012. Yang terakhir, 16 warga Afghanistan yang kebanyakan wanita dan anak-anak tewas oleh serangan seorang prajurit Amerika Serikat di dalam rumah di Kandahar, Ahad (12/03/2012).
Terus Bertambah
Untuk menyerang Agfhanistan, Amerika mengajak keikutsertaaan negara-negara NATO seperti; Britania Raya, Prancis, Belanda, dan Australia. Serangan Amerika bertajuk “Operasi Kebebasan Abadi” (Operation Enduring Freedom) semenjak tahun 2001 sampai sekarang yang dimulai pada Oktober 2001 itu bertujuan menggulingkan kekuasaan Taliban, yang dituduh melindungi al-Qaidah, serta menangkap Usama bin Ladin. Faktanya, Usamah, tokoh yang menjadi alasan Amerika menyerang Afghanistan, justru tinggal di Pakistan dan korban terbesar kampanye Amerika di Afghanistan ini justru warga sipil.
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, dalam lima tahun terakhir berturut-turut semenjak serangan awal, jumlah warga sipil Afghanistan yang tewas dan terluka terus meningkat.
Misi bantuan PBB di Afghanistan UNAMA menyebutkan bahwa 3.021 warga sipil tewas selama tahun 2011. Angka itu lebih tinggi dari tahun 2010 yang mencapai 2.790 dan tahun 2009 sebanyak 2.412 jiwa.
“Di balik angka-angka ini, jelas warga Afghanistan sangat menderita dan sangat dirugikan. Ini adalah kewajiban kita semua untuk menghentikan ini semua, sekaligus mencegahnya,” kata Komisaris Tinggi HAM PBB Navi Pillay dikutip BBC (04/02/2012).*