Hidayatullah.com– Selasa (03/01/2012) kemarin, rakyat Mesir menggelar pemilu parlemen putaran ketiga yang berlangsung selama dua hari. Warga sembilan provinsi yang tersisa dari 27 provinsi berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih 1202 kandidat yang berasal dari 181 parpol dan memperebutkan 150 kursi.
Di perkirakan lebih dari 14 juta warga Mesir memberikan suara mereka. Jalan-jalan di seputar Mesir terlihat semarak dipenuhi beragam poster dari sejumlah partai.
Rakyat Mesir kali ini memberikan suara dalam putaran akhir pemilu parlemen setelah dalam dua putaran lalu dimenangi oleh kelompok-kelompok Islam.
Sebelumnya, pada pemilu parlemen tahap kedua, Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) bentukan Al Ikhwan memimpin dengan perolehan suara sebanyak 4.058.498. Diikuti di tempat kedua oleh Partai An Nur bentukan Salafy dengan jumlah suara 3.216.430.
Sementara di kalangan partai sekuler, yang berhasil mendulang suara lebih dari satu juta hanya Partai Wafd dengan jumlah 1.077.244.
Partai Kebebasan dan Keadilan yang meraih 47 persen suara, dan Partai Al-Nur yang meraup 21 persen berhasil mengamankan sekitar 68 persen kursi dalam putaran pertama pemilu legislatif yang diadakan pada tanggal 28 November lalu.
Serunya persaingan antara kelompok sekuler-liberal dengan kalangan Islam merupakan pemandangan menarik tersendiri.
Spanduk milik partai milik Ikhwan di Mahalla dengan tulisan “Islam sebagai solusi” disamping logo FJP, ditebar guna menarik perhatian pemilih. Di daerah Minya, beberapa spanduk bahkan dilengkapi kutipan al-Quran. Tak kalah menarik, pamflet dan spanduk partai An-Nur menonjolkan nama-nama keluarga berpengaruh yang sudah memberi bantuan kepada mereka. Juga nama ulama-ulama Salafy.
Namun razia aparat keamanan kepada kelompok-kelompok LSM pro demokrasi pekan lalu dinilai telah mengganggu pekerjaan lembaga pemantau pemilu yang didukung Barat. Amerika menuduh tentara sengaja berusaha memanfaatkan kelemahkan lembaga pengawas.
Tak lama setelah aksi penggerebekan 17 LSM asing di Mesir, Amerika melalui Menteri Pertahanannya, Leon Panetta dan Dutar Besar Amerika Untuk Mesir Anne Patterson “menekan” pejabat senior Mesir, untuk menghentikan aksinya.
Islam dikudeta?
Pernyataan mengejutkan datang dari pentolan partai berkubu sosialis yang tak laku, Abdul Rahman Khair. Abdul Rahman yang juga pendiri partai pekerja dalam sebuah wawancara dengan surat kabar “Al-Akbar” men jelaskan kegagalan kaum kiri muda di fase pertama dan kedua pemilihan parlementer, yang menurutnya sebagai pukulan yang menyakitkan.
“Meskipun Kaum Kiri memeluk isu-isu keadilan dan kesetaraan, sampai sekarang mereka tidak mampu berkomunikasi dengan baik dengan masyarakat Mesir. Media juga memberikan kontribusi signifikan mengubah citra mereka, di samping sejumlah besar uang yang dikirim dari luar negeri hanyu menguntungkan kepentingan gerakan Islam di Mesir, ” ujarnya dikutip laman allafrica.com.
Lebih jauh, ia memprediksi akan kemungkinan terjadinya kudeta militer jika mayoritas Islam atau dibentuk oleh pemerintah.
Walhasil, kemenangan partai-partai Islam tetap tidak akan pernah membuat nyaman kelompok liberal, sekuler atau sosialis. Dan yang pasti, menjadi ancaman negara-negara Barat dan kaum sekularis yang didukung Amerika juga kepentingan Zionis-Israel sebagai tetangganya.*