Hidayatullah.com—Mesir selesai menggelar pemilihan presiden tahap pertama pada hari Rabu dan Kamis kemarin. Berdasarkan perhitungan sementara kandidat dukungan Al Ikhwan, Muhammad Mursy, dan mantan anak buah Husni Mubarak, Ahmad Shafiq, unggul di tempat pertama dan kedua.
Al Mishry Al Yaum, Jumat (25/5/ 2012) membuat tabulasi perhitungan suara yang dikumpulkan oleh para reporternya di 27 gubernuran dari 13.000 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di seluruh wilayah Mesir.
Hasil resmi akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Presiden paling cepat dua hari setelah waktu pencoblosan.
Berdasarkan perhitungan Al Mishry Al Yaum, angka pasrtisipasi pemilih dalam pemilihan umum pertama setelah Husni Mubarak digulingkan mencapai 43,3 persen. Angka ini lebih rendah dari yang diperkirakan, mengingat pemilu tersebut bagian dari sejarah baru Mesir.
Muhammad Mursy mendapatkan suara terbanyak dengan meraih 5.446.460 atau 24,9% suara. Disusul Ahmad Shafiq, yang dicalonkan lewat partai baru leburan dari partai lama Husni Mubarak, dengan 24,5% atau 5.338.285 suara.
Hamdeen Sabbahi membuat kejutan menyodok di urutan ketiga dengan 4.616.937 (21,1%) suara, mengungguli Munim Abul Futuh –calon independen bekas pimpinan Al Ikhwan– yang mendapatkan 3.889.195 (17,8) suara. Amr Mousa, diplomat unggulan Mesir mantan sekretaris jenderal Liga Arab, harus puas di posisi kelima dengan 2.471.559 (11,3%) suara.
Partisipasi pemilik suara paling tinggi yang datang ke TPS ada di kota Port Said yang mencapai 60%, diikuti oleh Alexandria 54%, dan di Kairo, Damietta serta Suez masing-masing 53%.
Warga Qena paling malas datang ke TPS, dengan tingkat partisipasi hanya 25%.
Banyak kandidat yang memanen suara di tempat kelahiran atau basis partainya. Namun ternyata, lawan politik seorang kandidat bisa yang lebih unggul di tempat yang diyakini seharusnya menjadi basis suara kandidat tersebut.
Shafiq misalnya. Dia mendulang banyak suara di Delta Nil, yang selama ini dikenal sebagai basis Al Ikhwan. Sementara Mursy sukses di Mesir Atas, yang diyakini menjadi basis kekuatan Partai Nasional Demokratik -partainya Mubarak yang kini dilebur- di mana Shafiq adalah anggotanya.
Munim Abul Futuh paling sukses di kota-kota sedang di seluruh penjuru Mesir.
Sedangkan diplomat yang dikenal kefasihan dan kelihaiannya dalam berbicara, Amr Mousa, kurang beruntung. Sebab usahanya berkampanye keliling daerah selama beberapa bulan tidak berhasil menarik simpati rakyat untuk memenangkannya.
Pemilihan putaran kedua akan digelar satu bulan mendatang, pada 16 dan 17 Juni.
Jika tidak ada perubahan yang mengejutkan, maka rakyat Mesir harus memilih pemimpin mereka, seorang yang dikenal Islamis atau seorang bekas pejabat di era Mubarak.
Sebagian kalangan menilai kedua pilihan itu dilematis, tidak mencerminkan semangat revolusi dan perubahan di Mesir.*