Hidayatullah.com— Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS)mendesak Gerakan Perjuangan Islam Palestina (Hamas) untuk mempertimbangkan kembali keputusannya baru-baru ini yang ingin memulihkan hubungan dengan rezim Bashar al-Assad di Suriah. IUMS menekankan langkah tersebut mengandung kesalahan besar, katanya dalam sebuah pernyataan baru-baru ini.
Persatuan ulama yang berbasis di Qatar ini mengatakan, keputusan tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip, nilai, dan hukum Islam, karenanya perlu ditinjau ulang. Ini memperhitungkan hal-hal yang diangkat oleh para ulama Islam, katanya dikutip Anadolu Agency.
Pernyataan itu – yang telah ditandatangani oleh beberapa ulama Muslim terkemuka – mengatakan bahwa kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah telah berjanji bahwa kekhawatiran organisasi ulama itu akan dipertimbangkan pada pertemuan biro berikutnya.
Pada tanggal 26 Juni, pemimpin senior Hamas untuk hubungan dengan negara-negara Islam dan Arab, Khalil al-Hayy mengatakan kepada media Al Akhbar mengatakan bahwa gerakannya telah berusaha untuk memulihkan hubungan dengan rezim Assad setelah jeda 10 tahun.
Sejak 1999, Hamas telah menggunakan Damaskus sebagai markas besar kepemimpinannya di luar negeri. Namun hingga 2012 ketika kelompok itu meninggalkan negara itu setelah pecahnya konflik Suriah, menghindari hubungan dengan Bashar al-Assad.*