Hidayatullah.com–Di sela semangat Ramadhan yang ikut mewarnai umat Islam di China. Pemerintah Negeri Komunis itu justru mengeluarkan larangan berpuasa bagi umat Islam di Daerah otonomi Xinjiang Uighur. Kebijakan yang datang di pertengahan bulan Ramadhan ini jelas sangat menodai hak asasi umat Islam di tempat tersebut.
Juru bicara Kongres Dunia Untuk Uighur menyatakan bahwa sikap pemerintah China ini akan menimbulkan masalah baru. Pasalnya mereka mengkhawatirkan sikap ini akan melahirkan sentimen anti pemerintah dari kelompok Muslim Uighur.
“Kebijakan tersebut akan memaksa orang-orang Uighur untuk memberontak (para pemerintah China) lebih jauh,” jelas salah satu juru bicara kongres seperti dikutip Reuters.com.
Pemerintah China sendiri bersikukuh bahwa kebijakan ini merupakan upaya menekan lahirnya ekstremisme agama. Alasan kesehatan juga menjadi salah satu senjata pemerintah China mempertahankan argumentasinya.
Dikutip dari AlArabiya.net, saat ini sekitar sembilan juta orang Uighur yang berbahasa Turki, bersama minoritas etnis Muslim wilayah Xinjiang lainnya telah mengajukan protes.
Mereka menyalahkan para pemimpin China atas kebijakan ini. Bagi mereka ini adalah sebuah kedzaliman terhadap hak beragama.
Setiap hari seorang Muslim di Xinjiang yang diketahui berpuasa akan dipaksa untuk minum dan berbuka puasa. Pada bulan Juli 2009, Pernah terjadi bentrokan antara Pemerintah China dan Umat Islam setempat dan menewaskan kurang lebih 200 warga Muslim.*