Hidayatullah.com—Sejumlah aktivis hak asasi manusia di Rusia mengkritik keputusan panita yang memberikan penghargaan Nobel Perdamaian untuk Uni eropa.
“Pilihan itu sangat aneh menurut saya, karena Uni Eropa merupakan struktur birokrasi pemerintahan yang sangat besar, dan tidak jelas bagaimana itu bisa dipersonalisasi. Namun demikian saya ingin katakan sekali lagi bahwa saya berharap penghargaan ini akan menjadi stimulus bagi UE,” kata Svetlana Gannushkina, dikutip Euronews (12/10/2012).
Gannushkina menonton pengumuman penghargaan Nobel itu bersama dengan Lyudmila Alexeyeva, 85 tahun, pendiri Helsinki Group di Moskow dan dianggap sebagai nenek kelompok oposisi Rusia.
Menurut kedua wanita itu, penghargaan Nobel Perdamaian kali ini “tidak pergi ke mana-mana.”
Salah satu calon yang diunggulkan sebagai penerima Nobel Perdamaian 2012 adalah kelompok pembela hak-hak asasi manusia bernama Memorial, yang berpusat di Rusia dan didirikan untuk mengenang para korban sistem kerja paksa di zaman Uni Soviet, Gulag.
Sejumlah warga di Eropa juga mengkritik pemberian Nobel Perdamaian kepada Uni Eropa.
“UE tidak pantas menerimanya, sebab dia tidak berbuat apa-apa, contohnya dalam kasus di Suriah,” kata Mikel dari Catalonia, Spanyol.
“UE dapat penghargaan Nobel Perdamaian tidak berarti apa-apa bagi saya, tidak mendatangkan makanan ke meja saya,” kata Juan, seorang penjual balon.
“Persatuan apa sayangku? Dengan ketidaksetaraan yang ada di antara negara-negara Uni Eropa? Dimana negara-negara utara tidak suka dengan negara-negara selatan?” sindir Stelios Vasilakopoulos, penjual perhiasan di Yunani.
“Saya tidak percaya sama sekali kalau dia (UE) telah membantu stabilitas, sebab kalau UE sudah berbuat sesuatu pasti kita tidak berada dalam situasi yang kacau seperti ini,” kata Stamo Valis, warga Yunani dengan profesi guru bahasa Inggris.
Di Jerman, suara-suara sinis atas Uni Eropa juga terdengar.
“Saya tidak tahun kenapa mereka (UE) menerima hadiah itu. Mereka tidak tidak bekerja keras untuk mewujudkan perdamaian. Saya yakin ada orang yang lebih berhak menerimanya,” kata Rolf Dillenberger.*