Hidayatullah.com—Lebih dari separuh orang Inggris pada Natal tahun ini mengaku memangkas pengeluarannya dibanding tahun lalu. Demikian menurut hasil survei yang dilakukan oleh asosiasi konsumen Inggris, lansir Xinhua (30/12/2012).
Sebanyak 56 persen dari 2.100 orang dewasa yng ditanyai mengatakan bahwa mereka memangkas uang belanja Natal. Di mana 43 persen di antaranya mengaku melakukan pemangkasan yang “signifikan”.
Sebanyak 48 persen mengatakan bahwa mereka tidak membeli banyak makanan untuk Natal, sementara 45 persen lainnya mengaku membeli makanan dengan kualitas lebih rendah dibanding tahun lalu, disebabkan harga-harga makanan yang melonjak tinggi.
Hampir separuh dari mereka mengaku berbelanja dengan menggunakan kartu kredit, atau dengan kata lain dengan berhutang. Lainnya, ada yang mengaku membayar dengan cek atau pinjam uang dari orang lain guna membeli kebutuhan Natal mereka.
Sebanyak 22 persen mengaku bahwa mereka hanya mampu belanja dengan menggunakan kartu kredit atau overdraft (penarikan cek dengan jumlah melebihi simpanan bank yang dimiliki-red). Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak punya uang dan hanya mampu berhutang.
Meskipun masyarakat mengaku kesulitan secara ekonomi, Center for Retail Research mencatat bahwa pembelanjaan pada dua hari pertama musim dingin menyentuh angkar rekor baru yaitu 5,4 milyar pound. Namun lembaga itu mengatakan, kenaikan dipicu oleh turis mancaranegara pemburu diskon akhir tahun dan kenaikan jumlah wisatawan belanja dari Asia.
Keluarga-keluarga di Inggris mengalami krisis ekonomi yang relatif berat akibat tingginya inflasi dan penurunan aktivitas perekonomian di kawasan Eropa.*