Hidayatullah.com—Pimpinan sebuah lembaga amal di Prancis meminta bantuan kepada masyarakat agar ikut membantu menyediakan makanan bagi orang-orang yang membutuhkan, sebab permintaan makan gratis semakin tinggi.
Seruan “minta tolong” sebuah lembaga swadaya masyarakat Prancis ini mengindikasikan bahwa krisis ekonomi yang menghantam negeri itu semakin parah.
Olivier Berthe, pimpinan Les Restaurants du Coeur (restoran yang melayani dengan hati-red), yang membagikan paket makanan dan menyediakan makan malam hangat kepada orang-orang yang membutuhkan, mendesak para donatur dan pemerintah agar memberikan lebih banyak bantuan, karena mereka menghadapi kenaikan tajam permintaan makanan gratis.
Hanya satu bulan setelah meluncurkan kampanye tahunan musim dinginnya, organisasi itu melaporkan terjadi kenaikan 12 persen jumlah orang yang mengetuk pintunya. Menurut Berthe, jumlah orang miskin yang meminta makan naik 100.000 dibanding tahun lalu.
Ini bukan kenaikan, ini merupakan ledakan,” kata Berthe kepada radio Prancis RTL pekan ini dikutip France24 (29/12/2012).
“Jumlah seperti ini belum pernah kami lihat sebelumnya,” ujarnya.
Menurut Berthe, kondisinya semakin memburuk dan masyarakat harus ikut berpartisipasi.
“Jika para donatur kami tidak bereaksi, maka kami tidak sanggup menanganinya,” imbuh Berthe.
Pada musim dingin 2011/2012 Les Restaurant du Coeur membagikan 115 juta makanan gratis, bandingkan dengan hanya 8,5 juta paket makanan pada tahun 1985, saat baru diluncurkan oleh aktor komedi Prancis Coluche.
Tuntutan Berthe agar masyarakat dan pemerintah lebih berperan dalam membantu rakyat miskin, seiring dengan tekanan yang dihadapi pemerintah soal kemiskinan yang terus meningkat di Prancis.
Survei terbaru menunjukkan satu dari dua orang warga Prancis merasa diri mereka miskin atau merasa akan jatuh miskin di kemudian hari.
Awal Desember ini Perdana Menteri Jean-Marc Ayrault mengumumkan bahwa pemerintah akan menambah anggaran kesejahteraan rakyat hingga 2,5 juta euro untuk lima tahun mendatang. Uang itu antara lain dipakai untuk bantuan perumahan dan penyediaan lapangan kerja bagi pemuda.
Dua tahun belakangan, pemerintah dan politisi Prancis di media terdengar lebih sibuk melarang cadar dan kerudung serta membidik kelompok Islam ketimbang mengurusi perekonomian negaranya.*