Hidayatullah.com—Perserikatan Bangsa-Bangsa akan menanyai pemerintah Amerika Serikat seputar laporan media Jerman, Der Spiegel, yang mengatakan bahwa intelijen AS menyadap pembicaraan para pejabat tinggi PBB yang dilakukan lewat video conference.
“Kami mengetahui adanya laporan itu, dan kami bermaksud untuk menghubungi pihak-pihak berwenang yang terkait dalam masalah ini,” kata jurubicara PBB Farhan Haq kepada para wartawan hari Senin (26/8/2013), seraya menambahkan bahwa pihak yang dimaksud adalah pemerintah AS.
Haq menjelaskan, Konvensi Wina 1961 tentang hubungan diplomatik telah menjadi hukum internasional yang berlaku, dan oleh karenanya setiap anggota PBB diharapkan bertindak sesuai dengan peraturan itu guna melindungi kepentingan misi diplomatik yang tidak bisa dilanggar.
Dilansir AFP, sebuah laporan majalah Der Spiegel menyebutkan badan intelijen AS National Security Agency (NSA) telah membongkar sandi rahasia sehingga agen-agen intelijen AS dapat mencuri dengar pembicaraan yang dilakukan lewat video conference PBB.
Aksi curi-dengar yang dilakukan intelijen AS itu termasuk menyadap jalur komunikasi lembaga atom PBB, IAEA, yang bertugas memantau program nuklir dunia termasuk Iran.
Informasi tentang penyadapan intelijen AS terhadap PBB ini merupakan yang terbaru, sejak pada Mei lalu Edward Snowden –teknisi jaringan komputer mantan pegawai kontrak yang menggarap proyek di lembaga-lembaga intelijen AS termasuk NSA- membocorkan informasi rahasia tentang PRISM, program intelijen masif pemerintah AS yang dapat menyadap jalur komunikasi telepon kabel, telepon seluler dan internet dunia.
“Kapanpun kami menerima informasi tentang hal ini sejak dulu kami menindaklanjutinya dengan pihak berwenang terkait,” kata jurubicara PBB itu.
Saat ditanyai perihal laporan Der Spiegel itu, pihak Departemen Luar Negeri AS mengatakan akan meresponnya lewat jalur diplomatik.
Jurubicara Marie Harf menegaskan bahwa AS menghargai kerjasama dengan PBB dan kerap “membagi informasi, termasuk intelijen.”
Der Spiegel mengatakan, NSA membobol kata sandi yang melindungi jalur komunikasi PBB itu pada pertengahan 2012, dan dalam beberapa pekan saja secara dramatis meningkatkan kegiatan intelijennya terhadap lalulintas komunikasi PBB.
Mengutip laporan internal, NSA juga diduga menyadap intelijen China di PBB pada tahun 2011.*