Hidayatullah.com–Serombongan besar gerilyawan Syiah asal Iraq, Suriah, dan sejumlah negara Arab lain telah tiba di pangkalan tersebut dalam beberapa pekan belakangan demi mencerap pelajaran mengenai perang kota serta ajaran para ulama Iran, demikian keterangan banyak figur militer Iran dan warga. Misi para gerilyawan: Menjaga rezim Presiden Bashar al Assad dari gempuran para pejuang oposisi Sunni, dan rencana serangan Amerika Serikat (AS). Demikian dikutip The Wall Street Journal versi Indonesia.
Meluasnya peran Iran di Suriah telah ikut membantu Assad menghindari kekalahan. Untuk sementara ini, peran kamp pelatihan Iran bagi para gerilyawan Syiah belum terkuak.
Para gerilyawan tersebut diberitahu bahwa “perang Suriah serupa dengan pertempuran besar Syiah. Para gerilyawan yang tewas [dalam pertempuran] akan menjadi syuhada termulia,” ujar seorang pejabat militer Iran yang menghadiri pelatihan.
Pelatihan bagi ribuan gerilyawan tersebut merupakan perkembangan dari keputusan Iran tahun lalu untuk melibatkan diri dalam perang saudara Suriah atas nama sekutunya, rezim Assad. Pertumpahan darah di Suriah kini bukan lagi perang saudara, namun perang-antara yang melibatkan sejumlah kekuatan regional haus pengaruh.
Laporan mengenai keterlibatan pasukan elit Iran, Garda Revolusi didapat dari sejumlah individu yang memiliki akses pada aktivitas pasukan.
Namun seorang pejabat senior misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-bangsa, Alireza Miryousefi mengatakan, “Republik Islam Iran tidak memiliki keterlibatan militer di Suriah.”
Menurutnya, hambatan utama untuk mencapai perdamaian di Suriah adalah “dukungan keuangan asing dan militer yang para pejuang oposisi Suriah dapatkan dari sejumlah negara Arab dan Barat.”
Setahun lalu, para pejabat AS mengungkap bahwa Assad akan jatuh dalam waktu dekat. Pernyataan itu menjadi pukulan besar bagi Iran. Pasalnya, Suriah adalah sekutu Iran paling penting dari dunia Arab. Negara itu pun menjadi jembatan bagi persenjataan dan dana Iran ke para milisi Libanon dan Palestina yang memerangi Israel.
Pada pertengahan tahun, komandan senior Revolutionary Guards beraksi setelah para pejuang oposisi Suriah merebut sebagian wilayah kota Aleppo. Di bawah pimpinan komandan luar negeri, Qasem Soleimani, Garda Revolusi mendirikan “ruang operasi” guna mengawasi kerja sama antara Teheran, pasukan Suriah, dan para pejuang oposisi Hizbullah.
Sejumlah penasihat militer Garda Revolusi dan pakar antipejuang oposisi telah bertempur di sisi Assad dan para milisi guna memastikan kemenangan. Sejumlah laman Iran yang terhubung dengan Garda Revolusi memuat nama-nama anggota pasukan yang digambarkan sebagai para “syuhada” yang tewas dalam perang Saudara Suriah.
Garda Revolusi dan Jend. Soleimani juga tengah memobilisasi ribuan gerilyawan dari negara-negara Arab terutama Libanon dan Iraq untuk memperkuat pasukan keamanan Assad. Menurut para petinggi, mereka mendapatkan latihan di sejumlah kamp seperti Amiril Mukminin.*