Hidayatullah.com—Mesir menutup pintu perbatasannya dengan Jalur Gaza, Palestina, di kota Rafah selama lima hari perayaan Idul Adha, lapor kantor berita MENA (13/0/2013).
Pintu perbatasan Rafah merupakan satu-satunya penghubung 1,3 juta rakyat Palestina di Gaza, yang diblokade darat, laut dan udara oleh Zionis Yahudi.
Pintu perlintasan dua negara itu ditutup mulai hari Senin (14/10/2013) sampai hari Jumat (18/10/2013).
Pemerintah Mesir tidak menjelaskan secara gamblang apa alasan penutupan itu. Namun, penutupan tersebut biasa dilakukan termasuk pada masa presiden Mursy, meskipun ketika itu pintu Rafah lebih sering dibuka dibanding pada era Mubarak. Penutupan semakin sering dilakukan belakangan ini, seiring dengan meningkatnya gangguan keamanan di Sinai, Wilayah Mesir yang bersebelahan dengan Palestina.
Jam buka pintu perbatasan dibatasi hingga 4 jam sehari, 6 hari dalam seminggu. Sebelumnya, pintu dibuka selama 9 jam setiap harinya, lapor Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pelintas batas yang boleh lewat hanya kelompok orang tertentu, termasuk orang asing, pemegang visa dan pasien yang membutuhkan perawatan medis. Hal itu menyebabkan banyak warga Palestina baik di sisi Gaza maupun Mesir terlunta-lunta.
Sejak Januari 2013, ketika Mursy masih berkuasa, Mesir melakukan penghancuran ratusan terowongan bawah tanah yang menjadi alternatif bagi rakyat Palestina untuk memasukkan bermacam-macam barang kebutuhannya. Penghancuran terowongan tersebut semakin menambah penderitaandan merusak perekonomian mereka.*