Hidayatullah.com–Badan keamanan Amerika Serikat, NSA, mempelajari kunjungan tersangka teroris ke situs-situs porno sebagai cara untuk merusak reputasi mereka, menurut Hufftington Post dikutip BBC, Kamis (27/11/2013).
NSA menerbitkan dokumen yang dibocorkan oleh mantan analis badan itu, Edward Snowden, yang menunjukkan enam anggota radikal Muslim rentan terhadap tuduhan “pencabulan di online”.
Kerentanan kelompok ini dapat dipelajari melalui penyadapan elektronik dan kemudian dieksploitasi untuk merongrong kredibilitas sasaran, lapor Hufftington.
Kelompok lobi Privacy International menyebut langkah itu “menakutkan”.
“Tanpa membicarakan individu tertentu, tentu tidak mengejutkan bila pemerintah Amerika menggunakan semua cara yang layak secara hukum untuk menekan langkah sasaran teroris yang berupaya membahayakan negara dan meradikalkan pihak lain untuk melakukan kekerasan,” kata Shawn Turner, direktur urusan publik NSA kepada Hufftington Post.
Resolusi hak privasi
Sementara Privacy International mengatakan, “Ini bukan pertama kalinya kita melihat negara menggunakan informasi pribadi seorang individu dengan pandangan yang tidak disepakati pemerintah, dan informasi ini dieksploitasi guna merongrong pesan-pesan individu itu.”
Laporan itu muncul tidak lama setelah pakar PBB menyepakati resolusi untuk “hak privasi”.
Resolusi itu akan diloloskan Majelis Umum PBB sebelum akhir tahun, namun resolusi itu hanya simbolis dan tidak mengikat secara hukum.
Dokumen Snowden yang dibocorkan -tertanggal Oktober 2012- menyebutkan data tersebut disebarkan ke kantor direktur NSA dan ke para pejabat Amerika lain.
Dokumen itu menyebutkan “Sebagian kelemahan, bila diangkat, akan mengungkap dedikasi orang itu terkait tujuan jihad, sehingga kewibawaannya akan hilang.”
Badan keamanan Amerika Serikat, NSA, mempelajari kunjungan tersangka kasus terorisme ke situs-situs porno sebagai cara untuk merusak reputasi mereka, menurut Hufftington Post. Nah, berhati-hatilah.*