Hidayatullah.com—Mantan perdana menteri Zionis Yahudi Israel Ariel Sharon meninggal hari Sabtu (11/1/2014) di Sheba Medical Center di Tel Hashomer.
Penjagal rakyat Palestina itu bulan depan akan berusia 86 tahun.
“Dia pergi ketika dia memutuskan untuk pergi,” kata Gilad, putra Ariel Sharon mengomentari kematian ayahnya dikutip Jerusalem Post.
Profesor Shlomo Noi, direktur Sheba Medical Center, secara resmi mengumumkan kematian Ariel Sharon dalam sebuah konferensi pers.
Noi mengatakan Sharon terus berjuang untuk hidupnya di pekan-pekan terakhir seiring dengan kondisinya yang terus memburuk.
Jantung Sharon melemah dan dia pergi dengan tenang meninggalkan keluarganya, kata Noi.
Rekan Noi di Sheba, Ze’ev Rotstein, hari Senin lalu mengatakan bahwa Sharon, yang nama depannya berarti singa dalam bahasa Ibrani, berjuang untuk hidup “seperti singa.”
Ariel Sharon, dilahirkan dengan nama Ariel Scheinerman pada 28 Februari 1928 di Kfar Malal, negeri Palestina yang ketika itu berada dalam kungkungan British Mandate dari keluarga Yahudi asal Belarusia.
Arik -panggilan akrabnya- dijuluki sebagai “Buldozer” yang berani menghadapi lawan-lawan politiknya tanpa ragu.
Dia akan selalu dikenal sebagai pembantai rakyat Palestina di kamp pengungsian Sabra dan Shatila di Libanon dengan bantuan milisi Kristen Libanon Phalange pada tahun 1982, ketika masih menjabat sebagai menteri pertahanan Zionis.
Sebelum akhirnya dinyatakan tidak lagi bernyawa, “Singa” tua itu terbaring koma selama 8 tahun, sejak terserang stroke pada 4 Januari 2006 di kantornya.
Mayat Sharon akan disemayamkan di Knesset sebelum digelar pemakaman secara kenegaraan di Sycamore Ranch, tempat tinggalnya di Negev, disamping makam istirnya Lily.*