Hidayatullah.com–Organisasi hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat Human Rights Watch (HRW) menuduh pemerintah Suriah sengaja membumi hanguskan ribuan rumah warga sipil, karena dianggap mendukung pejuang oposisi melawan rezim Bashar al-Assad.
Human Rights Watch menerbitkan foto-foto satelit sebelum dan penghancuran permukiman di Damaskus dan Hama, yang diperkirakan sebagai basis pejuang oposisi.
Organisasi HAM ini mengatakan penghancuran rumah-rumah warga, termasuk gedung apartemen bertingkat delapan, menggunakan bahan peledak dan alat-alat berat seperti buldoser.
Human Rights Watch mengatakan penghancuran rumah-rumah tersebut di bawah pengawasan militer.
Kawasan yang dihancurkan pada 2012 dan 2013 ini setara dengan luas dua lapangan sepak bola.
Human Rights Watch mengatakan penghancuran dengan sengaja dan hukuman kolektif seperti ini masuk kategori kejahatan perang.
“Membumihanguskan seluruh perkampungan atau permukiman warga sipil bukan taktik perang yang sah,” kata Ole Solvang, peneliti Human Rights Watch, dikutip BBC, Kamis (30/01/2014).
“Penghancuran rumah-rumah warga secara sengaja ini menambah panjang kejahatan perang yang dilakukan pemerintah Suriah,” kata Solvang.
Pemerintah rezim Suriah mengatakan penghancuran dilakukan untuk memindahkan bangunan-bangunan ilegal.
Human Rights Watch tidak menerima alasan ini karena bangunan-bangunan ilegal di distrik-distrik yang propemerintah tidak dihancurkan.
Tanpa Perkembangan
Sementara itu, babak pertama pembicaraan perdamaian yang melibatkan pemerintah Suriah dan oposisi di Jenewa akan diselesaikan Jumat (31/01/2014) hari ini. Namun hampir tidak ada kemajuan mengenai masalah-masalah utama.
Persetujuan untuk bertemu lagi – kemungkinan satu minggu lagi – diperkirakan akan menjadi satu-satunya hasil perundingan hari ketujuh dan terakhir.
Mediator PBB Lakhdar Brahimi mengatakan ia berharap akan pembicaraan yang lebih mendalam pada pembicaraan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu, dan mengemukakan ini “baru permulaan dari proses tersebut.”*