Hidayatullah.com—Ulama asal Mesir dan bermukim di Qatar, Dr Yusuf Al-Qaradhawi, yang khutbah Jumatnya kadang menimbulkan ketegangan di antara negara-negara Arab, kini menyampaikan pesan yang agak menyejukkan.
Dalam sebuah pernyataannya pada hari Ahad (20/4/2014) yang dikirim lewat surat elektronik, Al-Qaradhawi yang dalam khutbahnya banyak menyinggung pemerintah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, mengatakan bahwa semua yang pernah dikatakannya merupakan pendapat pribadi dan bukan pendapat pemerintah Qatar.
“Posisi pribadi saya tidak merefleksikan posisi pemerintah Qatar … Saya tidak memiliki posisi resmi, tetapi hanya mengungkapkan pendapat pribadi saya,” kata Al-Qaradhawi dalam e-mailnya dilansir Al-Arabiya.
Al-Qaradhawi dalam khutbahnya sering mengkritik negara-negara Arab tetangga Qatar yang disebutnya tidak cukup islami.
“Saya ingin mengatakan bahwa saya mencintai semua negeri di Teluk, dan mereka semua mencintai saya: Arab Saudi, Kuwait dan Uni Emirat Arab, Oman, dan Bahrain. Saya menganggap mereka sebagai satu negara dan satu rumah,” kata Al-Qaradhawi lagi.
Pada 5 Maret lalu, Arab Saudi, UEA dan Bahrain menarik pulang duta-duta besar mereka dari Qatar, sebuah tindakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ketiga negara itu menuding pemerintah Doha, yang menampung Al-Qaradhawi setelah dicabut kewarganegaraannya oleh Mesir, ikut campur dalam urusan dalam negeri mereka. Penguasa Qatar menolak tudingan itu.
Ketiga negara tetangga Qatar tersebut geram karena memberikan Doha dukungan kepada Al-Ikhwan Al-Muslimun, organisasi asal Mesir di mana Al-Qaradhawi pernah aktif dan ditawari menjadi pemimpinnya, yang dilarang beroperasi di sebagian negara Teluk.
Sejak penarikan duta-duta besar negara tetangga dari Qatar, Al-Qaradhawi beberapa waktu tidak muncul menyampaikan khutbah Jumat. Sebuah tindakan yang dipandang sebagian pihak sebagai upaya meredakan ketegangan di antara negara-negara Teluk.
Dalam pernyataan hari Ahad kemarin, Yusuf Al-Qaradhawi mengakui bahwa dirinya pernah menerima penghargaan-penghargaan dari Arab Saudi dan UEA atas karya-karyanya, seraya menyanjung tinggi pemberian penghargaan itu.
Al-Qaradhawi mengatakan bahwa pendapat yang disampaikannya di publik hanya dimaksudkan sebagai kritik membangun.
“Apa yang pernah saya katakan, dan saya katakan (sekarang), semata nasihat yang tulus, yang akan terbukti kesungguhannya setelah itu,” katanya.
UEA memanggil duta besar Qatar pada bulan Februari lalu, terkait komentar Al-Qaradhawi di sebuah stasiun televisi Qatar di mana dia mengecam UEA sebagai sebuah negara anti-Islam. Setelah itu dalam khutbahnya dia menyinggung lagi soal UEA.
Dalam pernyataannya kemarin Al-Qaradhawi membantah laporan-laporan media yang mengatakan dirinya akan segera meninggalkan Qatar.
“Saya adalah bagian dari Qatar. Qatar adalah bagian dari saya … Sekarang saya berusia 88 tahun dan saya akan tinggal di Qatar dan dimakamkan di tanahnya,” kata ulama yang telah mengundurkan diri dari dewan ulama Al-Azhar menyusul dilengserkannya politisi asal Al-Ikhwan, Muhammad Mursy, dari kursi kepresidenan.*