Hidayatullah.com—Ratusan warga Homs kembali ke rumah-rumah mereka setelah pasukan rezim Suriah menguasai kota itu, lansir koresponden AFP dikutip Aljazeera.
Para warga yang terpaksa kehilangan tempat tinggal akibat perang yang berkecamuk, memanjat reruntuhan dan memeriksa puing-puing rumah mereka Jumat (9/5/2014) kemarin.
“Saya melihat di Facebook kalau rumah saya telah hancur, tapi saya tidak percaya,” kata Jaqueline Fawwas seorang wanita berusia 30an tahun kepada AFP. “Saya ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri.”
Seorang wanita lain yang enggan menyebutkan identitasnya berkata, “Saya datang ke sini untuk memeriksa rumah saya, tapi saya tidak dapat menemukannya. Saya tidak menemukan atapnya, saya tidak menemukan temboknya. Saya hanya menemukan cangkir kopi ini, yang akan saya ambil sebagai cinderamata.”
Penduduk Homs diperbolehkan kembali ke rumah-rumah mereka sebagai bagian dari kesepakatan antara pemerintah dengan pasukan oposisi, yang juga menjadi jaminan bagi pasukan perlawanan keluar dari kota yang kini dikuasai tentara rezim Bashar Al-Assad itu.
Lebih dari 1.700 tentara oposisi telah meninggalkan Homs sejak hari Rabu lalu berdasarkan kesepakatan itu.
Hari Jumat kemarin buldozer-buldozer terlihat membersihkan jalan-jalan di distrik kota yang merupakan salah satu wilayah terpenting di Suriah itu.
Gubernur Homs Talal Al-Barazi mengatakan, tim teknis dikerahkan untuk menyisir distrik-distrik di kota kuno tersebut, termasuk daerah Hamidiyeh yang merupakan bekas benteng pertahanan pasukan oposisi guna mencari sisa-sisa ranjau dan bahan peledak lainnya.
Stasiun televisi pemerintah Suriah mengabarkan dua orang personel militer tewas saat sedang menjinakkan sebuah bom.
Laporan reporter Associated Press di Homs menyebutkan, prajurit-prajurit pemerintah dan kelompok milisi bersenjata pro-pemerintah disebar ke berbagai penjuru kota.
Penarikan pasukan oposisi dari Homs mengakhiri pertempuran sengit selama dua tahun di kota terbesar ketiga di Suriah itu dan menjadi salah satu kemenangan besar untuk Presiden Bashar Al-Assad.
Bagi oposisi Suriah, kekalahan itu merupakan pukulan telak.
Sekarang pasukan oposisi hanya bertahan di sebuah distrik di luar Homs, kota yang dijuluki sebagai ibukota perlawanan revolusi melawan rezim Assad.*