Hidayatullah.com—Kelanjutan larangan transgender berkarir dalam dinas kemiliteran Amerika Serikat perlu dikaji ulang,” kata Menteri Pertahanan Amerika Serikat Chuck Hagel.
Transgender adalah orang yang memiliki karakteristik fisik dan jenis kelamin berbeda dengan saat mereka dilahirkan.
“Setiap orang Amerika yang memenuhi syarat yang ingin mengabdi kepada negara kita harus diberi kesempatan jika mereka memenuhi kualifikasi dan dapat melakukannya,” kata Hagel Ahad (11/5/2014) dikutip Associated Press.
Sebuah panel yang dibentuk oleh Universitas Negeri San Francisco belum lama ini memperkirakan ada sekitar 15.450 transgender yang menjadi anggota militer, Garda Nasional serta pasukan cadangan.
National Center for Transgender Equality menyambut baik pernyataan Hagel itu.
“Jika pak menteri bisa bertemu dan berbicara dengan para transgender di militer yang saya pernah temui, dia akan mengerti dan tahu sendiri jawabannya. Mereka ini orang-orang mengagumkan yang mengabdi meskipun mereka menyembunyikan bagian mendasar siapa mereka sebenarnya,” kata Mara Keisling.
Organisasi pendukung LGBT yang beranggotakan orang-orang lesbian, gay, bieksual dan transgender yang sedang dan pernah berdinas di militer AS, SPART*A, mengatakan peninjauan ulang atas larangan itu seharusnya dilakukan sejak dulu.
“Banyak negara sekutu kita, termasuk Inggris, Australia dan Israel, membolehkan orang-orang transgender mengabdi dengan bangga dan terhormat di angkatan bersenjata mereka. Sudah saatnya AS bergabung dengan mereka,” kata Allyson Robinson, direktur kebijakan organisasi LGBT itu yang pensiun dengan pangkat kapten.
Tahun 2010, Kongres Amerika Serikat meloloskan undang-undang yang menyatakan gay dan lesbian yang menjadi anggota militer boleh menyuarakan penyimpangan seksual mereka secara terbuka, setelah selama bertahun-tahun dilarang lewat kebijakan Don’t Ask Don’t Tell.
Menurut Hagel, masalah transgender yang berdinas di kemiliteran itu lebih rumit.
Pengkajian ulang kebijakan itu sepertinya harus juga memikirkan soal transgender yang menjadi tahanan militer. Seperti kasus saat ini dimana Bradley Manning, prajurit AS yang dipenjara karena membocorkan informasi rahasia ke WikiLeaks, menyatakan dirinya sebagai wanita, mengubah namanya menjadi Chelsea Manning dan meminta perawatan penggantian hormon, yang menurut pihak militer AS saat ini tidak bisa diberikan.*