Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Dokter Jerman Nyatakan Alexei Navalny Sembuh dari Racun Novichok

Ama Farah
Terakhir diupdate: 24 September 2020 12:52 12:52 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 24 September 2020 12:52
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny sudah keluar dari sebuah rumah sakit di Berlin, Jerman, setelah lebih dari sebulan dirawat akibat keracunan. Sekarang para dokter meyakini bahwa dia “sepenuhnya pulih” dari racun saraf buatan era Soviet yang kemungkinan diberikan kepadanya, kata pihak rumah sakit hari Rabu (23/9/2020).

Navalny menghabiskan waktu 32 hari di Rumah Sakit Charite di Berlin, 24 hari di antaranya di dalam ruang perawatan intensif sebelum akhirnya para dokter menilai kondisinya sudah membaik dan cukup layak untuk dipindahkan dari ruangan pasien akut itu.

Navalny, politisi dan investigator korupsi yang dipandang sebagai lawan Presiden Vladimir Putin yang paling menonjol, diterbangkan ke Jerman atas permintaan istrinya dua hari setelah jatuh sakit pada 20 Agustus dalam penerbangan domestik dari kawasan Siberia kembali ke Moskow. Selama dua hari dia koma di sebuah rumah sakit di kota Omsk, Siberia, di mana para dokter Rusia mengatakan tidak menemukan jejak racun dalam tubuhnya.

Namun sesudah dipindahkan ke Berlin, pakar-pakar senjata kimia Jerman memastikan bahwa dia diracun dengan Novichok, zat perusak saraf buatan era Uni Soviet. Temuan itu diperkuat oleh laboratorium-laboratorium di Prancis dan Swedia, lansir Associated Press.

Berdasarkan kemajuan yang dialami Navalny, para dokter berkeyakinan bahwa “ada kemungkinan dia pulih seutuhnya,” tetapi mereka juga mengatakan bahwa terlalu dini untuk mengira dampak jangka panjang racun itu.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Beberapa hari terakhir, Navalny menampilkan lewat Instagram beberapa foto dirinya di rumah sakit, pertama ketika dia duduk di tempat tidur dikelilingi keluarganya, kemudian ketika berkeliling, naik-turun tangga di gedung tempat perawatannya.

Hari Selasa malam dia menampilkan sebuah unggahan, di mana dia menertawakan laporan koran Prancis Le Monde yang mengatakan bahwa Presiden Putin mengatakan kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam suatu sambungan telepon bahwa dia “bisa jadi meracuni dirinya sendiri.”

“Teori bagus, saya yakin itu layak mendapat perhatian lebih seksama,” tulis Navalny dalam bahasa Rusia. “Memasak Novichok di dapur. Menyeruputnya dari termos air di pesawat. Jatuh koma.”

Lebih lanjut dia menulis dengan sindiran, “puncak dari rencana licik saya” pasti mati di Siberia, di mana penyebab kematiannya akan dikenang lama.

“Namun Putin menyalip saya. Kalian tidak dapat membodohi dia,” tulis Navalny. “Akibatnya, saya terbaring koma selama 18 hari seperti orang bodoh, tetapi itu tidak menyurutkan saya. Provokasinya gagal!”

Jubir Kremlin Dmitry Peskov hari Rabu (23/9/2020) mengatakan laporan tentang percakapan Putin dengan Macron itu “tidak akurat dalam kata-katanya,” tetapi dia menolak untuk menjelaskan bagian mana yang dinilainya tidak akurat.

Kantor Presiden Macron menolak memberikan komentar tentang kabar tersebut.

Racun perusak saraf yang ditemukan dalam tubuh Navalny merupakan racun kelas yang sama yang menurut pemerintah Inggris dipakai untuk meracuni bekas mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya di Salisbury, England, pada tahun 2018. Bapak dan putrinya itu akhirnya selamat setelah dirawat beberapa lama.

Navalny, 44, dalam kondisi induced coma (sengaja dibuat koma untuk perwatan) selama lebih dari 2 pekan saat dia diobati dengan antidot racun mematikan itu.

Anggota timnya menuding Kremlin terlibat dalam aksi peracunan itu, tuduhan yang dibantah keras oleh pejabat-pejabat Rusia.

Pemerintah Kremlin yang geram dengan desakan-desakan agar dilakukan investigasi, mengatakan bahwa Jerman perlu membagikan data medis dalam kasus itu atau membandingkannya dengan catatan yang ada pada dokter-dokter Rusia.

Jerman membalas Rusia dengan mengatakan bahwa Navalny berada dalam perawatan medis di Rusia selama 48 jam, pastinya Rusia memiliki sampelnya sendiri dalam kasus ini.

Peskov hari Rabu kembali menegaskan bahwa Moskow memerlukan data dari Jerman untuk “membandingkan” hasil tes.

Jerman dalam pemeriksaan juga melibatkan Organization for the Prohibition of Chemical Weapons yang berbasis di Den Haag, Belanda, sebagai asisten teknis dalam kasus ini. Organisasi itu mengumpulkan sampel independen dari Navalny untuk melakukan tes, tetapi hasilnya belum diumumkan ke publik.

Tim Navalny mengatakan bahwa pada akhirnya politisi dan aktivis antikorupsi itu berencana akan kembali ke Rusia, tetapi belum ada pernyataan lagi tentang hal itu setelah dia keluar dari rumah sakit.

Hari Rabu Peskov mengatakan bahwa Navalny, “sebagaimana warga negara Rusia lainnya” bebas untuk kembali ke Rusia “kapan saja.”

Dia menegaskan bahwa apa yang terjadi pada Navalny masih merupakan “pertanyaan besar” bagi Kremlin, sebab penyelidik Rusia tidak memiliki fakta yang menunjukkan adanya racun dalam tubuh Navalny.

Peskov sekali lagi menyeru kepada Jerman, Prancis dan Swedia untuk membagikan data yang mereka miliki kepada Moscow.

“Kami masih menunggunya dan berkeyakinan bahwa itu dapat membantu kami membuat progres signifikan dalam kasus ini,” ujarnya.

Pihak RS Charite hanya mengeluarkan pernyataan setelah berkonsultasi dengan Navalny dan istrinya dan mereka tidak akan memberikan komentar lebih lanjut setelah pasien keluar atau tidak lagi dalam perawatannya.* 

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Alexei NavalnyJermanNovichokPrancisracunrusiaSiberiaswediaUni SovietVladimir Putin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dakwah dari Perahu ke Perahu
Tulisan selanjutnya Kanal Televisi Prancis M6 Dilarang Beroperasi di Aljazair

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?