Hidayatullah.com–Meningkatnya kekhawatiran akan wabah Ebola di Amerika Serikat rupanya telah menaikkan permintaan akan pakaian pelindung.
DuPont, perusahaan Amerika Serikat yang berdiri sejak tahun 1802 dan merupakan salah satu perusahaan pembuat pakaian pelindung yang digunakan petugas untuk menanggulangi wabah Ebola di Afrika Barat, mengatakan kepada NBC News bahwa pabriknya telah menaikkan angka produksinya lebih dari tiga kali lipat.
Judson Boothe seorang tokoh senior di Kimberly-Clark Health Care, perusahaan bidang kesehatan yang bermarkas di Atlanta dan antara lain menyediakan pelayanan pencegahan infeksi, mengatakan bahwa pihaknya juga telah menambah jumlah produksi pakaian pelindung.
Tiga juta pakaian pelindung akan dibutuhkan dalam memerangi wabah Ebola, demikian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Namun perusahaan-perusahaan tidak hanya menarget para petugas kesehatan dalam memasarkan produknya.
Dilaporkan MailOnline, seragam pelindung, penutup wajah, serta perlengkapan untuk bertahan hidup telah lenyap dari rak-rak toko karena kepanikan warga akan bahaya Ebola di Amerika Serikat.
Seorang pakar penyakit infeksi mengatakan kepada MailOnline bahwa aksi borong warga yang panik itu hanya membuang-buang uang saja.
Saat berita ini ditulis, harga satu seragam pelindung mencapai USD743,40 di Amazon.com.
Dalam ulasannya salah seorang pembeli seragam pelindung buatan Lakeland Industries Inc pada 4 Oktober 2014 mengaku sudah menggunakannya sejak 3 pekan lalu dan belum tertular Ebola.
Sementara seorang pembeli lainnya pada 7 Oktober menulis bahwa dia belum lama ini menginap di sebuah hotel di Chicago untuk menghadiri konferensi. Oleh karena hotelnya sangat penuh, maka dia memakai seragam pelindung yang mirip pakaian astronot itu.
Sedangkan seorang pelanggan bernama Arcta menulis bahwa dia akan membeli produk itu lagi. Seragam pelindung itu akan dipakai istri dan anaknya saat berlindung di bunker rumah mereka sedalam 25 meter dari bahaya Ebola.
Kepanikan warga Amerika Serikat akan wabah Ebola itu muncul setelah kematian Thomas Eric Duncan. Dia merupakan orang pertama yang terdiagnosa positif Ebola di wilayah Amerika Serikat dan akhirnya meninggal di Texas.
Sebagian media mengabarkan bahwa pria asal Liberia yang datang ke Amerika untuk menikahi pacarnya itu meninggal meskipun sebelumnya telah diobati dengan ZMapp, obat percobaan yang sebelumnya juga diberikan kepada 2 warga Amerika pekerja kesehatan untuk sebuah misionaris Kristen yang tertular Ebola di Liberia dan berrhasil diselamatkan nyawanya.
Namun, Russia Today hari Senin (6/10/2014) melaporkan bahwa Duncan sedang dalam kondisi kritis meregang nyawa dan dia tidak mendapatkan obat ZMapp. Dr Thomas Frieden, direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), mengkonfirmasi bahwa Duncan tidak diberi ZMapp karena stok obatnya kosong. “Semuanya habis” dan “tidak akan ada lagi dalam waktu dekat,” kata Frieden yang pernah pernah mengatakan di hadapan wartawan bahwa meskipun ada infeksi Ebola di Amerika Serikat tetapi tidak akan menjadi wabah dan Amerika akan mampu menanggulanginya.
Duncan akhirnya meninggal pada hari Rabu pagi (8/10/2014) di sebuah rumah sakit di Dallas, Texas.
Saat ini petugas terus mencari dan memantau kondisi orang-orang yang pernah kontak dengan Duncan sejak tiba di Amerika.*