Hidayatullah.com—Setelah sepekan mengundang kegaduhan, keputusan kontroversial berupa penghapusan daging babi dari hidangan untuk para penghuni penjara federal di Amerika Serikat akhirnya dibatalkan. Hari Kamis (16/10/2015), masakan daging babi panggang kembali disajikan untuk para narapidana.
Bureau of Prisons, badan yang mengurusi lembaga pemasyarakatan di AS, mengungkapkan perihal pembatalan keputusan tersebut kepada Washington Post. Kabar itu disampaikan beberapa jam setelah seorang pemimpin Senat dari Partai Republik mengutarakan kekecewaannya terhadap survei soal menu kegemaran narapidana yang dianggap tidak berguna dan membuang dana pemerintah, serta kurangnya transparansi dalam keputusan tersebut.
“Industri daging babi menciptakan 547.800 lapangan kerja, yang mendatangkan $22,3 milyar pendapatan personal, dan berkontribusi $39 milyar pada gross domestic product (GDP),” kata Charles E. Grassley, senator Partai Republik dari daerah pemilihan Iowa, dalam suratnya yang ditujukan kepada Direktur Biro Penjara Charles E. Samuels, Jr.
“Amerika Serikat adalah eksportir daging babi terbesar di dunia, dan produsen daging babi terbesar ketiga,” tulis Grassley, seraya memperingatkan bahwa penghapusan daging babi dari menu di penjara federal Amerika –yang belum pernah dilakukan sebelumnya– akan memberikan dampak bagi kehidupan warga Amerika yang mencari nafkah di industri daging babi.
Grassley adalah ketua Senate Judiciary Committee, yang mengawasi sistem penjara federal di AS.
Kebijakan pencoretan menu daging babi yang mempengaruhi 206.000 narapidana penjara federal diberlakukan pada 1 Oktober kemarin, bersamaan dengan tahun fiskal baru. Namun, kebijakan itu ditentang keras oleh kelompok industri daging babi, salah satu kelompok lobi yang tidak bisa dianggap sepele di Washington. Sebaliknya, kebijakan itu didukung oleh kelompok industri daging ayam dan daging sapi, pesaing alami daging babi.
Edmond Ross, jurubicara Biro Penjara, mengatakan tidak dapat menjelaskan mengapa kebijakan itu berubah dengan cepat. “Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan, dan saya tidak punya jawaban untuk disampaikan kepada Anda,” kata Ross Kamis malam lalu, seraya menambahkan mungkin akan ada penjelasan lebih lanjut dari pejabat terkait.
Pekan lalu, seperti dilansir Wahsington Post (9/10/2015), Ross menjelaskan bahwa berdasarkan survei tahunan soal makanan apa yang lebih disukai para narapidana, menu daging babi sejak beberapa tahun belakangan semakin kurang diminati. Dalam dua tahun terakhir saja, menu daging babi yang awalnya terdiri dari bacon (daging babi dalam bentuk irisan tipis), daging babi cincang, dan sosis babi, menyusut menjadi hanya satu jenis saja, yaitu daging babi panggang. Menu babi panggang ini yang kembali disajikan setelah keputusan tersebut diprotes dan akhirnya dibatalkan.
Dalam penjelasannya pekan lalu, Ross juga mengatakan bahwa harga daging babi yang mahal menjadi salah satu faktor keputusan pencoretan jenis makanan tersebut dari daftar menu narapidana.
Namun, alasan yang terakhir ini dibantah oleh Grassley, yang menantang Biro Penjara untuk membuktikan bahwa biaya untuk membuat menu daging babi lebih mahal dibanding masakan lainnya.
Para pejabat federal telah menegaskan bahwa penghapusan menu daging babi tersebut tidak dipengaruhi oleh narapidana Muslim yang menolak memakan hidangan mengandung daging babi.
Sejumlah narapidana Muslim, seperti pernah diliput media, memang pernah meminta diberikan makanan yang tidak mengandung babi. Namun tidak pernah ada tuntutan dari mereka agar hidangan babi dilarang.
Sebagian dari kelompok-kelompok Muslim melaporkan bahwa mereka menerima kiriman surat berisi kemarahan, menyusul penghapusan menu babi tersebut.
“Isu yang dibuat-buat ini bahkan merupakan sebuah konstroversi,” kata Ibrahim Hooper, direktur komunikasi nasional Council on American-Islamic Relations (CAIR) dalam pernyataannya yang dikirim lewat email seperti dikutip Washington Post, menanggapi kegaduhan seputar pencoretan menu babi di penjara-penjara federal AS.
“Ini merupakan indikator jelas akan meningkatnya teori konspirasi Islamophobik yang disulut oleh orang-orang yang berusaha menjelek-jelekkan Islam dan memarjinalkan warga Muslim Amerika berdasarkan fanatisme dan misinformasi,” imbuh salah satu pimpinan dari organisasi Muslim paling terkemuka di AS itu.
Sejumlah komentar pembaca Washington Post justru mendukung penghapusan menu daging babi untuk narapidana. Kata mereka, jika narapidana tidak lagi menyukai masakan daging babi, mengapa pula penjara harus menghidangkannya. Disamping itu, daging babi yang harganya mahal bisa diganti dengan menu lain sehingga menghemat anggaran.
“Narapidana seharusnya diberi makanan dengan makanan yang paling murah, .. seperti hot dog dan kacang-kacangan, serta roti atau biskut kering, setiap hari,” kata seorang pembaca bernama F Farkel.*