Hidayatullah.com—Meski Iran terlibat bersama Rusia, Iraq dan milisi Syiah Libanon (Hizbullah) ikut menghancurkan Suriah, seorang panglima senior tentara Iran justru memperingatkan Arab Saudi tidak mengirimkan pasukan darat ke Suriah setelah Saudi menggelarkan pesawat tempur di Turki.
“Kami jelas tidak akan membiarkan situasi di Suriah berlaku seperti yang diinginkan negara-negara pemberontak. Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” kata wakil kepala staf Brigadir Jenderal Masoud Jazayeri kepada televisi Iran berbahasa Arab, Al-Aalam.
Jazayeri menjawab pertanyaan mengenai apakah Iran telah berencana menambah penasihat militernya ke Suriah di mana pasukan Saudi akan digelarkan di sana sehingga menciptakan risiko bentrok langsung antara Iran dan Saudi.
“Para teroris yang berperang di Suriah saat ini adalah pasukan Arab Saudi atau pasukan Amerika atau bahkan pasukan reaksioner di kawasan ini,” kata Jazayeri.
“Sekarang, ketika pasukan Suriah dan pasukan rakyat menggapai kemenangan, mereka ingin mengirimkan tentara ke Suriah, tetapi ini hanya gertakan dan perang psikologis,” kata Jazayeri seperti dikutip Antara dari AFP.
Serangan Rusia
Sementara itu, PBB mengutuk serangan udara terhadap sejumlah rumah sakit dan sekolah di Suriah utara, hari Senin (15/02/2016), yang dikatakan menewaskan hampir 50 orang, termasuk anak-anak.
Sekjen PBB, Ban Ki-moon, mengatakan serangan tersebut jelas-jelas adalah pelanggaran terhadap hukum internasional.
Pemerintah Amerika Serikat juga mengecam keras serangan udara ini, yang dituduhkan ke militer Rusia.
“Kami mengutuk serangan ini … yang dilakukan oleh rezim dan pihak-pihak yang mendukung mereka, termasuk Rusia,” kata John Kirby, juru bicara Kementerian Pertahanan di Washington dikutip BBC.
Rusia sejak beberapa waktu terakhir mengerahkan serangan udara, menjadikan sasaran tuduhan yang mereka sebut ‘kelompok-kelompok teroris’ sebagai sasaran serangan namun faktanya justru banyak menyerang warga dan rakyat sipil.
Iran secara diam-diam memasok senjata dan pasukan milisi membantu Bashar al Assad sejak konflik meletus tahun 2011. Namun secara nyata, Iran dan Rusia melakukan pertemuan pada November 2015 dan membuat perjanjian untuk saling bekerja sama membantu rezim kejam yang membunuhi rakyatnya sendiri hingga terusir ke berbagai Negara.*