Hidayatullah.com—Seorang staf Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengungkap kasus pedofilia oleh personel pasukan perdamaian PBB asal Prancis di Republik Afrika Tengah (CAR) telah mengundurkan diri, sebagai bentuk protes karena pelaku tidak ditindak dan justru mendapat kekebalan hukum.
Anders Kompass mengatakan bahwa PBB gagal melakukan penyelidikan secara layak perihal dugaan anggota tentara Prancis mencabuli anak-anak termasuk yang baru berusia 8 tahun di negara CAR.
Menurut Kompass orang-orang yang melakukan kejahatan tersebut masih belum ditindak.
Kompass adalah direktur operasi lapangan di kantor HAM PBB di Jenewa. Pengunduran dirinya berlaku efektif bulan Agustus mendatang, lapor BBC Rabu (8/6/2016).
Pihak berwenang di Prancis mengatakan mereka sedang menyelidiki tuduhan tersebut dan akan menghukum siapa saja yang dianggap bertanggung jawab.
Dalam wawancara dengan kantor berita IRIN, Kompass mengatakan dia meninggalkan jabatannya karena kekebalan hukum penuh diberikan kepada orang-orang yang –dalam berbagai level jabatan– telah menyalahgunakan kewenangan mereka. Selain itu, para pejabat PBB terkait tidak menunjukkan penyesalan atas perlakuan mereka terhadap dirinya. Sebagai informasi, investigasi oleh PBB pada bulan Mei 2015 menyatakan Kompass tidak bersalah dalam tuduhan membocorkan dokumen rahasia dalam kasus itu, dan dia harus dipekerjakan kembali.
“Hal itu membuat mustahil bagi saya untuk tetap bekerja di sana,” ujarnya.
Pada Juli 2014 Kompass membocorkan laporan rahasia perihal dugaan kejahatan seksual tentara PBB terhadap anak-anak di CAR ke kejaksaan di Prancis, yang merupakan negara bekas penjajah CAR. Kompass berdalih PBB teralu lamban dalam bertindak menangani kasus itu.
Pihak berwenang di Prancis sekarang sedang menyelidiki 14 tentara dalam hubungannya dengan laporan yang dibocorkan Kompass itu.
Sebuah kajian oleh pakar-pakar independen pada bulan Desember 2015 mengungkap bahwa terjadi “kegagalan institusional parah” oleh PBB dalam menanggapi kasus tersebut.
Laporan kajian independen itu mengatakan bahwa anak-anak semuda usia 9 tahun di CAR didorong untuk melakukan hubungan seks dengan imbalan uang atau makanan.
Hilel Neuer direktur eksekutif dari kelompok UN Watch mengatakan kepada AFP bahwa Kompass, seorang warganegara Swedia yang telah bekerja di PBB selama 30 tahun, sekarang banyak dipandang sebagai seorang “pahlawan yang ingin melindungi anak-anak tak berdosa, yang mana sikap itu bertentangan dengan sikap para pejabat PBB.”*