Hidayatullah.com—Sejak hasil referendum tanggal 23 Juni menyatakan Inggris keluar dari Uni Eropa, warga pendatang di negara itu semakin sering mengalami serangan rasis baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Dilansir BBC Ahad (27/6/2016), sejumlah kejadian di mana orang mendapatkan perlakuan kasar disebabkan warna kulit atau etnis mereka dikabarkan oleh banyak pengguna media sosial.
“Malam ini putri saya berangkat kerja di Birmingham dan melihat sekelompok pemuda menyudutkan seorang gadis Muslim seraya berteriak, “Pergi sana, kami memutuskan untuk keluar [dari Uni Eropa],” tulis pemilik akun Twitter Heaven Crawley Kamis (24/6/2016).
“Ibu saya bekerja di sebuah sekolah dasar, seorang wali murid asal Latvia muncul hari Jumat pagi mengantarkan anak-anaknya sambil berurai air mata dan berkata, “Mereka tidak menginginkan saya di sini,” kata Jim Waterson di Twitter.
Pemilik akun Twitter Luke Trinder mengatakan feed di laman Facebook-nya menunjukkan seorang temannya berkulit hitam disuruh “mengemaskan barang-barangnya dan pulang” sebanyak lima kali dalam kurun 25 menit, di Baker Street.
Tidak jelas apakah hasil referendum Brexit itu memang yang memicu serangan-serangan rasis beberapa hari belakangan ini.
Menurut pemilik akun Twitter Paul the Other One, hal seperti itu tidak pernah terjadi sebelum referendum.
Namun, Bev Applewhaite, seorang wanita yang berdasarkan foto profilnya berkulit hitam, mengatakan serangan rasis seperti itulah yang selama bertahun-tahun dialami oleh orang-orang kulit hitam.
Jurnalis televisi Ciaran Jenkins bercuit, “Baru berdiri di sini lima menit. Sudah tiga orang berbeda berteriak, “Kirim mereka pulang.”
Anggota legislatif Jess Phillips, perwakilan dari Birmingham Yardley, mengatakan di Twitter akan membawa masalah itu ke parlemen guna mengetahui lebih lanjut apakah insiden kebencian rasial di Inggris pekan ini memang lebih tinggi di banding pekan sebelumnya.*