Hidayatullah.com—Pemerintah Mesir hari Rabu (8/9/2016) mengeluarkan larangan pendirian patung tanpa mendapatkan izin resmi terlebih dahulu, menyusul kemunculan sejumlah patung di berbagai daerah yang menyulut kemarahan publik, lapor Ahram Online.
Pekan ini pihak berwenang memerintahkan sebuah patung di Provinsi Sohag, yang menggambarkan seorang prajurit pria sedang memeluk seorang wanita, agar diubah. Patung yang dibuat sebagai monumen bagi prajurit yang tewas dalam tugas itu mengundang kemarahan warga karena dinilai menggambarkan pelecehan seksual terhadap perempuan.
Menyusul kecaman publik, patung “Ibu Para Martir”yang masih dalam proses penggarapan tersebut akhirnya diputuskan untuk diubah oleh pembuatnya, Wagih Yani. Seniman patung berusia 60 tahun itu menghilangkan sosok prajurit berhelm yang memeluk si wanita dan menggantinya dengan untaian daun zaitun serta menempatkan merpati putih di atas kepala patung sebagai lambang perdamaian.
Gubernur Sohag Ayman Abdel-Monaim memerintahkan dilakukan penyelidikan atas izin pendirian patung tersebut, lapor BBC Senin (5/9/2016).
“Dilarang mendirikan atau merenovasi patung, mural atau pahatan yang terletak di tempat-tempat publik di Mesir kecuali setelah dikaji menyeluruh oleh kementerian kepurbakalaan dan kebudayaan,” kata Perdana Menteri Sherif Ismail seperti dikutip Ahram Online.
Seorang pejabat di kabinet, yang minta identitasnya tidak diungkap, mengatakan keputusan itu diambul setelah berulang kali muncul patung-patung buruk yang tidak sesuai dengan kedalaman sejarah negeri Mesir.
Contoh kasus teranyar adalah patung di Sohag tersebut.
Sebuah patung lainnya beberapa bulan silam dirobohkan di Provinsi Minya. Patung yang menggambarkan Ratu Nefertiti yang tersohor itu dicela publik karena dianggap publik sangat jelek, buruk, tidak indah dan tidak menggambarkan keelokan ratu Mesir dari zaman abad ke-14 Sebelum Masehi tersebut.*