Hidayatullah.com–Krisis di Negara-negara Teluk dinilai semakin buruk ketika Mauritania menjadi negara terbaru yang ikut memilih untuk memutuskan hubungan diplomatik mereka dengan Qatar semalam.
Sebelumnya, Arab News melaporkan, Yordania mengumumkan menarik kembali perwakilan diplomatik mereka di Qatar setelah ‘menganalisis penyebab krisis’ antara Doha dengan beberapa negara Arab saat ini.
Hal tersebut dikonfirmasi melalui pernyataan dari Kementerian Luar Negeri yang diterbitkan Badan Informasi Mauritania dalam bahasa Arab.
“Qatar memiliki kebijakan mendukung ‘organisasi teroris’ dan penyebaran ide ekstremis. Ini menyebabkan banyak kematian di negara Arab, Eropa dan seluruh dunia, “kata pernyataan itu.
Sebelumnya, Arab News melaporkan, Yordania mengumumkan menarik kembali perwakilan diplomatik mereka di Qatar setelah ‘menganalisis penyebab krisis’ antara Doha dengan beberapa negara Arab saat ini.
Juru bicara pemerintah, Mohammad al Momani turut mengkonfirmasi Jordan telah membatalkan lisensi saluran berita televisi Aljazeera yang berbasis di Doha.
Baca: Turki Siap Memfasilitasi Negara yang Berseteru dengan Qatar Berdialog
Situasi penerbangan juga semakin berantakan ketika warga Qatar tidak lagi diizinkan untuk melakukan penerbangan ke Dubai atau Abu Dhabi setelah UEA melarang warga dan perusahaan penerbangan Qatar dari menggunakan bandara negara itu.
“Warga Qatar kini tidak diizinkan untuk melalui bandara di UAE bahkan untuk mengganti pesawat. Peraturan ini berlaku untuk semua perusahaan penerbangan yang terbang ke UAE, termasuk Etihad Airways, “kata juru bicara perusahaan penerbangan yang berbasis di Abu Dhabi itu.
Indonesia dilaporkan juga terpaksa mengalihkan jamaah hajinya ke Arab Saudi naik maskapai lain sementara juru bicara Dewan Agama Islam Singapura mengkonfirmasi 200 penumpang dalam perjalanan ke Arab Saudi turut terpengaruh akibat masalah tersebut.
Baca:
Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) telah melarang rakyatnya memberi ungkapan simpati terhadap Qatar dan mereka yang ditemukan melakukan hal itu bakal menghadapi hukuman penjara hingga 15 tahun.
“Tindakan tegas akan diambil terhadap siapa yang menunjukkan simpati atau apa-apa bentuk bias terhadap Qatar serta membantah posisi UEA baik melalui media sosial, pernyataan tertulis, visual maupun bentuk lisan,” lapor Gulf News mengutip Jaksa Agung UEA, Hamad Saif al -Shamsi.
Surat kabar itu yang mengutip pernyataan kepada media berbahasa Arab mengatakan, selain hukuman penjara, pelaku juga akan dikenakan denda minimal 500.000 dirham.
Sejak krisis diplomatik itu tercetus, slogan menentang dan mendukung Qatar telah menjadi topik paling hangat yang dibahas di situs Twitter berbahasa Arab dan koran serta saluran televisi di wilayah ini turut terlibat dalam perang mulut tentang peran Qatar, tulis AFP.
Arab Saudi sebelumnya memimpin enam negara lainnya yaitu Bahrain, Emeriah Arab (UEA), Mesir, Yaman, Libya dan Maladewa untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar atas beberapa alasan terkait ‘keamanan nasional’. *