Hidayatullah.com–Serangan terhadap Rohingya telah meningkat di wilayah Maungdaw, Buthidaung dan Rathedaung dimana laporan pembunuhan, pembakaran desa, peledakan bom dilaporkan masji terjadi hingga hari ini.
Laporan sebuah media loka, RVisionTV, Senin 26 Agustus 2017 menyebutkan, di Dumbai, bom militer militer Maungdaw dan aksi penembakan telah menewaskan 9 orang termasuk wanita dan anak-anak, serta melukai lebih dari 30 orang Rohingya. Seperti yang terjadi di Desa Kyi Kan Pyin, sekitar 11 warga sipil diserang.
Di Myint Hlut, Maungdaw selatan, sekitar 200 rumah warga dibakar oleh pihak militer bersenjata yang bekerja sama dengan ekstremis Rakhine terutama dari pemukiman NaTaLa, demikian menurut sebuah yang tak mau disebutkan.
Baca: Sejarah Ringkas Kekerasan terhadap Etnis Muslim Rohingya di Myanmar
Sebuah desa di Rantai Khali dibakar dan sekitar 500 warga sipil berada di bawah serangan parah dimana beberapa orang berhasil melarikan diri.
Di Kamp Pengungsi Dalam Negeri Sendiri (IDP), sekitar 200 rumah hancur dan rata dengan tanah. Semua orang lari ke pegunungan terdekat dan daerah perbukitan.
Warga etnis Rohinya di Zay Di Pyin, Rathedaung, telah diblokade warga dari luar sejak akhir Juli. Bahkan orang-orang Muslim tidak diizinkan pergi mencari makan atau bekerja. Kemarin, belasan orang telah terbunuh dan desa bersejarah di Zay Di Pyin dibakar.
Di daerah Taungbazar, Buthidaung ada laporan tentang pembantaian dan penembakan terhadap sekitar 100 orang etnis Rohingya.
Sekitar 10.000 orang mengungsi dan ribuan lainnya terpaksa melarikan diri ke Bangladesh, dimana pemerintah Bangladesh sendiri juga ikut membatasi perbatasan. Para pelarian umumnya adalah wanita, anak-anak dan orang tua.
Dalam setiap serangan sekarang dan sebelumnya, ada laporan keterlibatan kelomok ekstrimis Rakhines yang anti-Rohingya, namun etnis Muslim Rohingya dikabarkan masih menahan diri untuk melakukan serangan balik.
Baca: Militer Myanmar Bunuh 30 Etnis Rohingya dalam Aksi Kekerasam Terbaru
Dilaporkan, ekstrimis Rakhine bekerja sama dengan pihak berwenang bersenjata dalam melakukan serangan kekerasan terhadap warga sipil etnis Muslim Rohingya, dan hal itu dapat menyebabkan kerusuhan komunal, menurut penduduk setempat.
RVisionTV, menyebut ada serangan besar di lebih dari 25 lokasi di wilayah itu.
Diharapkan badan kemanusian internasional atau lokal bergegas ke lokasi agar bisa menyaksikan semua kekejaman militer ini.
Pada tanggal 26 Juli lalu, Juru bicara Suu Kyi, Zaw Htay, telah mengumumkan rencananya untuk menutup saluran RVision, satu-satunya saluran TV yang banyak mengulas kejahatan militer Myanmar pada etnis Rohingya. Sebelumnya, laman Facebook RVision Burma telah dihapus akibiat laporan pemerintah Burma.*