Hidayatullah.com–Saudi Commission for Tourism and National Heritage (Komisi Pariwisata dan Warisan Nasional Saudi/SCTH) mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mendapatkan kembali lebih dari 52.000 artefak dari dalam dan luar negeri sebagai bagian dari Proyek Nasional Perekaman Digital Peninggalan Purbakala, yang mengikuti standar internasional untuk pencatatan dan pengarsipan arkeologi.
Proyek ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan menyimpan semua situs bersejarah, artefak, monumen bersejarah dan bangunan warisan urban ke dalam registrasi digital nasional komprehensif yang terhubung dengan peta digital multi-dimensi, yang kompatibel dengan teknologi GIS modern dan database, peta, gambar dan grafis digital.
Direktur Jenderal Pengarsipan dan Perlindungan Peninggalan Purbakala di SCTH, Naif Al-Qannour, mengatakan: “Proyek penyimpanan digital baru ini menyimpan informasi dan laporan rinci tentang 32.000 artefak yang diambil dari luar Saudi dan 20.000 yang diserahkan oleh warga ke SCTH sejak Pangeran Sultan bin Salman, presiden SCTH, meluncurkan kampanye penyelamatan artefak nasional pada 2011.”
“Beberapa artefak ditemukan di sepanjang perjalanan artefak-artefak itu di luar Arab Saudi melalui para penjelajah asing yang memindahkannya ke negara-negara lain.” lanjut Al- Qannour, “Salah satu yang paling terkenal adalah artefak Batu Tayma, yang ditemukan oleh Charles Huber dan kemudian dipamerkan di Museum Louvre di Paris.”
Dia juga menjelaskan bahwa banyak karyawan perusahaan asing, terutama mereka yang bekerja di industri minyak, mengunjungi banyak wilayah di Arab Saudi untuk mempelajari fenomena geologi dan alam di wilayah-wilayah itu. Mereka mengumpulkan artefak-artefak yang mereka temukan lalu menyerahkannya ke museum-museum nasional di negara asal mereka.”
“Para perampok di situs-situs arkeologi kadang- kadang menggali untuk mencari barang-barang berharga arkeologi demi memperoleh keuntungan finansial dengan cara cepat,” kata Al-Qannour, “Dengan demikian, mereka menghancurkan bukti arkeologis penting yang ditemukan di situs-situs tersebut, baik di darat maupun di laut.”
Al-Qannour menyatakan bahwa SCTH akan terus bekerja untuk mendapatkan kembali, menyelamatkan dan melindungi artefak-artefak dan telah merilis sebuah daftar merah artefak-artefak yang dicuri dari situs-situs di dalam negara Arab Saudi dan informasi tentang hal itu berguna untuk membuat artefak-artefak itu lebih mudah untuk diidentifikasi. SCTH juga telah mengumumkan akan memberi imbalan uang kepada mereka yang menyerahkan artefak atau melaporkan artefak yang hilang atau dicuri.
Pada tahun 2011, Pangeran Sultan meluncurkan kampanye penyelamatan artefak-artefak nasional, termasuk program-program dan inisiatif-inisiatif media dan budaya yang bertujuan untuk memberi penerangan dan informasi kepada warga tentang nilai artefak dan pentingnya menyerahkannya ke SCTH.
Baru-baru ini, SCTH merilis daftar 140 nama warga negara Saudi yang mengembalikan artefak, melaporkan situs arkeologi atau bekerja sama dengan SCTH dalam melindungi warisan budaya negara antara 2013 dan 2017. Mereka akan mendapatkan penghargaan pada Forum Peninggalan Purbakala Pertama, yang akan diselenggarakan di bawah naungan Raja Salman, pada 7 November di Museum Nasional di Riyadh.*/Abd Mustofa