Hidayatullah.com–Washington menghabiskan dana hingga $5,6 triliun untuk biaya perang di Afghanistan, Iraq, Suriah dan Pakistan sejak tahun 2001, menurut sebuah studi terbaru. Angka itu lebih banyak tiga kali lipat dari klain Pentagon.
Para peneliti dari Watson Institute of International and Public Affairs di Universitas Brown menemukan bahwa sampai akhir bulan September, biaya peperangan AS ditambah pengeluaran oleh kantor Keamanan Dalam Negeri, Departemen Pertahanan dan Urusan Veteran keseluruhan lebih dari $4,3 triliun sejak peristiwa 9/11 tahun 2001. Angka itu melonjak menjadi $5,6 triliun apabila biaya perang dari anggaran fiskal tahun 2018 dan pengeluaran perkiraan untuk veteran dimasukkan. Berarti setiap pembayar pajak AS terkena beban $23.386.
Hasil studi itu mencatat bahwa angka hitungaan mereka sangat jauh berbeda dengan klaim Pentagon yang menyebut $1,52 triliun dihabiskan pada tahun fiskal 2001 sampai 2018. Anga yang disebutkan Pentagon tercantum dalam laporan Departemen Pertahanan AS berjudul ‘Estimated Cost to Each Taxpayer for the Wars in Afghanistan, Iraq and Syria’, lapor RT Kamis (9/11/2017).
Watson Institute mengatakan pihaknya menggunakan perkiraan lebih komprehensif untuk menghitung biaya ‘Perang Melawan Teror’. Mereka memasukkan biaya perawatan jangka panjang para veteran –yang merupakan konsekuensi dari perang itu sendiri, sehingga angkanya berbeda dengan klaim Pentagon, sebab biaya perang tidak hanya mencakup biaya untuk di medan perang semata, melainkan juga konsekuensi yang ditimbulkannya seperti perawatan prajurit dan veteran yang terluka.
“Bahkan jika kita menghentikan peperangan itu hari ini,” kita akan menambah $7,9 triliun ke beban utang nasional,” kata Senator Demokrat Jack Reed saat memimpin diskusi panel hari Rabu lalu.
Hasil studi itu kelihatan mendukung pernyataan Reed, mengingat akumulasi bunga dari uang pinjaman untuk biaya perang akan menambah $8 triliun ke dalam beban utang nasional dalam beberapa dekade ke depan.
Menurut studi Universita Brown tersebut, biaya perang AS paling banyak tersedot ke peperangan di Iraq dan Afghanistan, di mana ongkos perang mencapai puncaknya di tahun 2008 dan 2011.*