Hidayatullah.com—Menyalip Korea Selatan, China tahun 2017 telah menjadi negara pengimpor LNG terbanyak kedua di dunia setelah Jepang, menurut analisis data pengapalan dari Reuters Eikon seperti dilansir RT Senin (8/1/2018).
Negara dengan perekonomian terbesar di Asia itu mengimpor sekitar 38 juta ton gas alam cair (LNG) tahun 2017, atau mengalami kenaikan tahunan lebih dari 50 persen. Sebagai perbandingan, impor LNG Jepang tahun ini tetap 83,5 juta ton, sementara Korea Selatan sekitar 37 juta ton.
Menurut Reuters perkembangan ini akan memberikan dorongan bersar pada pasar spot Asia, karena pembeli-pembeli LNG di China lebih menyukai kontrak jangka pendek dibanding jangka panjang, tidak seperti pembeli di Jepang dan Korsel.
Kemunculan China sebagai pembeli LNG kedua dunia itu bisa mengubah pasar. Paling tidak, pasar spot yang dimunculkannya akan mengusik tradisi kontrak jangka panjang suplai LNG dengan harga yang berpedoman pada harga patokan minyak. Selama ini, Jepang dan Korea Selatan –yang sangat bergantung dengan LNG LNG– memilih kontrak jangka panjang guna memastikan keamanan suplai dan meredam fluktuasi harga.
Kontrak jangka pendek dan kemunculan China sebagai pengimpor LNG terbesar kedua, yang didorong oleh kebijakan pemerintah untuk mengurangi konsumsi batubara, selain mengusik struktur pasar tradisional juga telah menimbulkan kenaikan harga LNG, yang dinikmati negara-negara eksportir selama masih bisa.
Kenapa dinikmati selagi bisa, karena kemunginan kenaikannya tidak berlangsung lama. Pasalnya, sekarang banyak pengekspor baru LNG bermunculan dan pasar akan kelebihan suplai. International Energy Agency (IEA) bahkan pada bulan Oktober lalu mengatakan bahwa pasar global LNG akan terus kelebihan suplai sampai pertengahan 2020-an. Namun, IEA juga memperkirakan permintaan LNG China yang besar bisa jadi akan mengencangkan pasar lebih awal.
Tiga negara pengimpor LNG terbanyak itu bersama-sama mengkonsumsi 60 persen suplai LNG global. *