Hidayatullah.com–Badan pengungsi PBB pada hari Selasa (09/01/2018) meminta Israel untuk menghentikan kebijakannya untuk merelokasi lebih dari 33.000 warga Eritrea dan Sudan, lapor Al Bawaba.
“UNHCR sekali lagi meminta Israel untuk menghentikan kebijakannya untuk merelokasi warga Eritrea dan Sudan ke sub-Sahara Afrika,” kata William Spindler, juru bicara badan PPB tersebut, dalam sebuah konferensi pers pada hari Selasa di Jenewa.
Permintaan tersebut diajukan setelah sekitar 80 kasus diidentifikasi di mana orang-orang yang direlokasi oleh Israel mempertaruhkan nyawa mereka dengan melakukan perjalanan berbahaya ke Eropa melalui Libya.
Pada tanggal 1 Januari, Israel memerintahkan ribuan migran Afrika untuk meninggalkan negara tersebut per bulan April atau menghadapi hukuman penjara.
Kelompok dan aktivis hak asasi manusia mengungkapkan kemarahan mereka atas keputusan “pemerintah negara” Zionis tersebut.
“Kami memiliki sejarah menjadi migran, dan kami melihat perlakuan yang menyusahkan dan rasis terhadap migran Afrika,” kata Jessica Sherman, juru bicara Jewish Voices for a Just Peace (JVJP), kepada Anadolu Agency pekan lalu.
Menurut PBB, ada sekitar 27.000 warga Eritrea dan 7.700 warga Sudan di Israel.
“Sejak Israel mengambil alih penentuan status pengungsi dari UNHCR pada tahun 2009, hanya sepuluh orang Eritrea dan satu orang Sudan yang telah diakui sebagai pengungsi. Israel belum menerima warga Eritrea atau Sudan sejak Mei 2016,” kata juru bicara UNHCR.*/Abd Mustofa