Hidayatullah.com—Dua biksu radikal di Myanmar kembali muncul di publik dua hari terakhir, setelah satu dilarang berceramah di muka umum selama setahun dan satunya dipenjara.
Ashin Wirathu, biksu ultra-nasionalis yang dijuluki “Buddhis Bin Laden”, tahun lalu dilarang memberikan ceramah publik oleh dewan biksu senior karena dianggap “berulang kali menyampaikan ujaran kebencian terhadap agama dan menyebabkan pertikaian masyarakat.”
Hari Sabtu (10/3/2018), Wirathu membantah bahwa pernyataan-pernyataan anti-Islam yang dikeluarkannya menjadi penyebab kekerasan maut yang terjadi di negara bagian Rakhine (Arakan) tahun lalu, lapor Deutsche Welle.
Dia menyalahkan konflik yang terjadi di sana kepada “terorisme orang Bengali.” Bengali adalah sebutan untuk orang-orang Rohingya Muslim yang tidak diakui eksistensinya di Myanmar.Untuk mendukung klaimnya dia mencontohkan di daerah asalnya, Mandalay, kondisinya aman-aman saja.
“Jika Wirathu menciptakan konflik, maka Mandalay akan menjadi abu. Dunia tidak mengetahui kebenaran ini,” kata biksu radikal anti-Islam itu, ketika berceramah di Yangon dalam rangka memperingati kehadirannya kembali ke muka publik.
Mandalay, di bagian tengah Myanmar, pernah mengalami kerusuhan maut pada tahun 2014 setelah disebarkan kabar dusta bahwa orang-orang Muslim memperkosa seorang wanita Buddhis.
Tahun lalu ketika kekerasan terhadap Rohingya kembali merebak, Wirathu sedikitnya dua kali mengunjungi wilayah Rakhine, di bagian utara Myanmar.
Hari Jumat (9/3/2018)Parmaukkha, biksu radikal lain teman Wirathu, dibebaskan dari penjara setelah dikurung tiga bulan lamanya, karena meminpin aksi protes 2016 menentang penggunaan istilah “Rohingya” oleh pemerintah Amerika Serikat. Dia didakwa dengan tuduhan memicu kerusuhan.
Sekeluarnya dari penjara, Parmaukkha menyatakan bahwa dirinya tidak kapok.
“Tidak ada yang namanya Rohingya di antara 135 kelompok etnis di Myanmar,” katanya kepada para reporter hari Jumat.
“Orang yang melakukan kesalahan adalah duta besar Amerika Serikat [untuk Myanmar],” ujarnya, merujuk penggunaan istilah Rohingya yang memicunya menggalang massa untuk berunjuk rasa.*