Hidayatullah.com–Benny Tai, seorang profesor hukum dan aktivis pro-demokrasi, dipecat oleh Universitas Kong Kong (HKU).
Dilansir The Guardian Selasa (28/7/2020), keputusan pemecatan Benny Tai itu bertentangan dengan keputusan senat universitas sebelumnya, yang menyatakan tidak ada alasan cukup untuk memecat dosen senior itu.
“Ini memberikan pesan mengerikan tentang kebebasan akademik,” kata Yuen Chan, seorang dosen senior bidang jurnalistik di City University London yang sebelumnya mengajar di Chinese University of Hong Kong.
“Ini merupakan periode kulminasi dari tekanan politik yang meningkat atas universitas-universitas di Hong Kong, yang diperparah oleh dinyatakannya pemberlakuan undang-undang keamanan.”
Dalam pernyataan yang dimuat di media sosial Tai mengatakan langkah itu dipaksakan pada universitasnya dan menunjukkan keinginan kuat Beijing untuk mengontrol para intelektual di kota pusat bisnis itu.
“Staf-staf akademik di institusi-institusi pendidikan di Hong Kong tidak lagi bebas membuat pernyataan-pernyataan kontroversial… Institusi-institusi akademik di Hong Kong tidak dapat melindungi mereka dari campur tangan internal dan dari luar,” kata Tai.
Akademisi berusia 56 tahun itu merupakan figur kunci dalam aksi-aksi protes “gerakan payung” tahun 2014, sebuah gerakan pro-demokrasi yang melumpuhkan pusat bisnis itu selama dua bulan dan membuka jalan bagi aksi-aksi protes yang lebih meluas pada tahun 2019.
Tahun lalu, Tai dihukum 16 bulan penjara atas perannya tersebut, tetapi diberikan pembebasan dari kurungan sampai kasus bandingnya tuntas.
Banyak anggota dewan pengurus, yang memilih untuk menyingkirkan dirinya, merupakan orang yang ditunjuk oleh pemerintah. Pihak universitas mengatakan mereka menjalani “proses yang ketat”, tetapi langkah itu disambut baik oleh kantor yang mewakili kepentingan Beijing di kota itu.
Dalam pernyataan yang diunggah di laman websitenya Kantor Penghubung itu mengatakan keputusan pemecatan itu “menghukum kejahatan dan mempromosikan kebajikan” dan mengklaim bahwa Tai sudah “memperparah konflik sosial, dan meracuni lingkungan politik.” Kantor Penghubung itu menambahkan bahwa Tai seharusnya menyalahkan dirinya sendiri.
Lokman Tsui, asisten profesor di fakultas jurnalisme dan komunikasi di Chinese University of Hong Kong, mengatakan bahwa pemecatan Tai merupakan serangan terhadap integritas akademisi di kota itu.
“Yang mengenaskan adalah bukan hanya siapa yang mereka pecat, tetapi juga tipe orang seperti apa yang mendapatkan kenaikan jabatan,” ujarnya.
“Beberapa akademisi yang saya kenal sudah pergi meninggalkan Hong Kong meskipun beberapa memutuskan untuk tetap tinggal dan berdiri tegar. Namun, saya memperkirakan tren keseluruhannya adalah semakin sulit bagi universitas-universitas Hong Kong untuk bisa tetap kompetitif, mempertahankan talenta yang mereka punya atau menarik talenta baru.”*