Hidayatullah.com–Ketua Asosiasi Cendekiawan Muslim Sedunia (IUMS), Dr Yusuf al-Qaradhawi, mengatakan bahwa mereka berdoa agar Turki yang memegang peran sejarah kembali menjadi pusat pemerintahan dunia Islam. Cendekiawan Muslim terkemuka Sheikh Yusuf al-Qaradhawi menuduh Barat berkomplot melawan Turki untuk menggagalkan kemajuannya.
“Turki menghadapi plot oleh mereka yang tidak suka melihat negara ini [terbit] dan oleh Barat,” al-Qaradhawi, ketua Persatuan Internasional untuk Cendekiawan Muslim (IUMS), mengatakan pada sesi pembukaan umum IUMS berkumpul di Istanbul pada hari Sabtu.
“Mereka akan berhasil [di plot mereka] tetapi untuk dukungan Allah bagi Presiden Recep Tayyip Erdogan dan saudara-saudaranya,” katanya, dikutip Middle East Monitor (MeMO), Ahad (4/11/2018).
Ketua IUMS mengatakan dunia Islam telah mengalami banyak bencana.
“Orang-orang Turki telah bertempur melawan karena mereka membela negara Islam,” katanya, melanjutkan untuk menyambut perkembangan besar di Turki di bawah kepemimpinan Erdogan.
“Kami mengikuti kegiatan Presiden Recep Tayyip Erdoğan di dalam dan di luar negeri setelah mengambil tanggung jawab dalam kepemimpinan. Ada perubahan yang signifikan. Kita berdoa, Turki yang memainkan peran penting dalam sejarah, kembali menjadi menjadi pusat pemerintahan dunia Islam,” katanya dikutip TRTWorld.
Baca: Mesir Vonis Penjara Seumur Hidup Syeikh Yusuf al-Qaradhawi .
Terkait dengan kasus pembunuhan Jamal Khashoggi, Qaradawi mengatakan bahwa pemerintah Turki dapat dipercaya untuk menyelesaikan kasus pembunuhan wartawan itu yang dilakukan di Istanbul.
Dihadiri lebih dari 1.500 cendekiawan Muslim dari seluruh dunia, majelis umum IUMS akan berlanjut hingga hari Kamis, guna membahas isu-isu yang ada di dunia Islam.
Pemilihan akan diadakan selama pertemuan untuk memilih ketua IUMS yang baru, sekretaris jenderal dan para wakil dan anggota dewannya.
Al-Qaradhawi juga mengomentari pembunuhan wartawan Saudi, Jamal Khashoggi, di dalam konsulat negaranya di Istanbul.
“Khashoggi mengatakan dia bukan tokoh oposisi, tetapi mereka [orang Saudi] tidak menerima itu dan membunuhnya,” katanya.
“Khashoggi takut dipenjara ketika dia memasuki konsulat, tetapi dia tidak berpikir bahwa ada orang-orang yang akan membunuhnya dan mereka memang membunuhnya,” keluhnya.*