Hidayatullah.com–Perusahaan roket Elon Musk, SpaceX, akan mengurangi sekitar 10% dari lebih 6.000 orang pekerjanya.
Perusahaan beralasan harus memutus hubungan kerja dengan karyawannya karena saat ini sedang menghadapi kesulitan luar biasa.
“Agar dapat terus melayani pelanggan kami dan berhasil dalam mengembangkan pesawat luar angkasa antarplanet dan internet global berbasis antariksa, SpaceX harus menjadi sebuah perusahaan yang lebih ramping,” kata seorang jubir perusahaan lewat email seperti dilansir The Guardian Sabtu (12/1/2018), seraya menambahkan bahwa bahkan perusahaan lain yang menghadapi masalah serupa akan bangkrut.
Bulan Juni, Elon Musk memecat sedikitnya tujuh orang manajer senior dalam tim proyek peluncuran satelit SpaceX. Kabar pemecatan itu baru diungkap bulan November 2018. Pemecatan berkaitan dengan ketidaksepakatan soal kecepatan menyelesaikan pekerjaan dari tim yang mengembangkan dan menguji coba satelit-satelit Starlink.
Starlink buatan SpaceX sedang bersaing sengit dengan OneWeb dan perusahaan Kanada Telesat untuk menjadi yang pertama memasarkan layanan internet berbasis satelit.
Bulan lalu, SpaceX meluncurkan misi antariksa keamanan nasional Amerika Serikat pertamanya, ketika roket buatan SpaceX membawa satelit navigasi militer AS dari fasilitas peluncuran roket di Cape Canaveral di Florida.
Perusahaan yang berpusat di California itu sebelumnya memaparkan rencana perjalanan ke Mars pada 2022, yang akan diikuti oleh misi berawak manusia ke planet merah itu pada tahun 2024.*