Hidayatullah.com—Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menyetujui kemungkinan penjualan ke Taiwan tank-tank M1A2T Abrams, rudal Stinger, serta peralatan perang lain yang diperkirakan bernilai $2,2 miliar ke Taiwan. Demikian dikatakan Pentagon hari Senin (8/7/2019), meskipun ada kritikan dari China soal kesepakatan itu.
Dilansir Reuters, Defense Security Cooperation Agency (DCSA) yang berada di bawah Pentagon dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa penjualan senjata-senjata itu merupakan permintaan dari pihak Taiwan. Peralatan tempur yang ingin dibeli Taiwan antara lain 108 tank M1A2T Abrams buatan General Dynamics Corp, dan 250 rudal Stinger.
DCSA memberitahukan Kongres AS hari Senin perihal kemungkinan penjualan senjata itu, yang bisa jadi mencakup juga penjualan senapan mesin, amunisi, kendaraan lapis baja Hercules, alat angkut berat dan perlengkapan pndukungnya.
Amerika Serikat tidak memiliki hubungan resmi dengan Taiwan, tetapi terikat secara hukum untuk membantu Taiwan yang ingin mempertahankan dirinya sendiri.
Amerika Serikat merupakan pemasok utama senjata Taiwan, yang dipandang China sebagai provinsinya yang berusaha melepaskan diri. Beijing tidak menafikan kemungkinan penggunaan senjata untuk menundukkan pulau tersebut.
Berbicara di Beijing hari Selasa (9/7/2019), jubir Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengatakan penjualan senjata AS ke Taiwan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan mengusik kedaulatan serta keamanan negara China.
“China sangat tidak senang dan menentang keras hal ini dan sudah menyampaikan sikap tegas keberatannya kepada pihak AS,” kata Geng dalam keterangan pers harian seperti dikutip Reuters.
“Taiwan merupakan bagian tidak terpisahkan dari wilayah China dan seharusnya tak seorang pun menganggap remeh tekad kuat pemerintah dan rakyat China untuk mempertahankan kedaulatan negara dan kesatuan wilayahnya serta melawan gangguan asing,” kata Geng.
China mendesak Amerika Serikat untuk segera membatalkan rencana penjualan senjata itu, mengakhiri semua kontak antara militer AS dan militer Taiwan, guna menghindari kerusakan lebih lanjut pada hubungan China-AS serta perdamaian dan kestabilan di sekitar Selat Taiwan, imbuhnya.
Kantor Kepresidenan Taiwan menyampaikan ucpan terima kasih kepada Amerika Serikat perihal penjualan senjata itu.
“Taiwan akan mempercepat investasi dalam pertahanan dan akan terus melanjutkan hubungan mendalam di bidang keamanan dengan Amerika Serikat serta negara-negara yang memiliki pemikiran sejalan,” kata Chan Tun-han, seorang jubir kepresidenan, dalam sebuah pernyataan.
Bulan Maret lalu, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan bahwa Washington merespon positif permintaan Taiwan akan penjualan senjata baru guna memperkuat pertahanannya dalam menghadapi tekanan dari China.
Kementerian Pertahanan Taiwan mengkonfirmasi permintaan penjualan senjata itu dan mengatakan bahwa permintaan tersebut ditindaklanjuti seperti biasa oleh AS.*