Hidayatullah.com–Pelari legendaris Ethiopia Haile Gebrselassie mengatakan kepada BBC bahwa fake news (berita palsu) yang dibagikan di Facebook berada di balik kerusuhan yang memyebabkan 78 orang tewas.
Masalah muncul ketika seorang aktivis terkemuka dari kelompok etnis Oromo, Jawar Mohammed, mengatakan pihak berwenang menempatkan dirinya dalam bahaya dengan cara menyingkirkan pengawal-pengawal pribadinya.
Kerusuhan itu mengandung unsur etnis dan relijius , kata pemerintah.
Gebrselassie mengatakan dia dapat menggugat Facebook apabila tidak mengenyahkan sejumlah postingan tertentu.
Peraih dua medali olimpiade itu tidak menyebutkan pesan mana yang dimaksudnya, tetapi kepada BBC dia mengatakan bahwa di ibu kota Addis Ababa berita palsu mudah menyebar.
Menyinggung jumlah korban nyawa, pria berusia 46 tahun itu menambahkan, “Saya yakin penyebab utamanya adalah Facebook.”
Kerusuhan berhari-hari di kawasan Oromia terjadi menyusul tuduhan yang dikemukakan Jawar di Facebook.
Polisi awalnya membantah tuduhan Jawar, tetapi Perdana Menteri Abiy Ahmed kemudian mengindikasikan bahwa polisi sudah bertindak keliru.
Foto-foto mengerikan, yang disebut-sebut sebagai akibat dari masalah itu, lantas bermunculan dan beredar luas di media sosial.
Gebrselassie mengatakan bahwa menurutnya foto-foto yang beredar itu bukan orang Ethiopia. “Saya tahu bangsa saya, mereka tidak melakukan hal-hal sekeji itu,” ujarnya seperti dilansir BBC Ahad (3/11/2019).
Sejumlah rekaman video palsu yang beredar luas di antaranya satu yang mengklaim bahwa seorang pejabat lokal mempersenjatai para pemuda, lapor jurnalis BBC di Addis Ababa Kalkidan Yibeltal.
Gebrselassie, yang sekarang seorang pemgusaha sukses, mewanti-wanti agar Ethiopia berhati-hati, mengingatkan genosida akbat perang sesama anak bangsa di Rwanda belum lama berakhir.
Dia juga menyebut konflik yang terjadi di Libya, Suriah dan Yaman sebagai contoh akibat dari perbuatan warga negaranya yang tidak terkendali.
Pihak berwenang telah menangkap lebih dari 400 orang dalam kaitannya dengan kerusuhan di bulan Oktober itu dan sekarang masalah mulai mereda.
Facebook belum menanggapi tudingan Gebrselassie, tetapi sebelumnya perusahaan itu pernah mengatakan pihaknya memiliki kebijakan untuk mengatasi penyebaran kabar palsu.