Hidayatullah.com–Meskipun Swiss adalah negara kaya, kemiskinan di sana terus bertambah, menurut laporan terbaru yang dirilis hari Selasa (17/12/2019).
Kemiskinan dialami 675.000 orang termasuk 100.000 di antaranya anak-anak pada tahun 2017, atau naik 10% dibanding tahun sebelumnya, menurut laporan yang disusun organisasi amal Kristen non-pemerintah Caritas.
Pada tahun 2014, kemiskinan dialami 6,7% populasi Swiss, tetapi angka itu merangkak naik stabil menjadi 8% pada tahun 2017. Kenaikan terjadi meskipun ada perekonomian yang sehat dan tingkat pengangguran menyentuh angka terendah (2,6%) selama 10 tahun.
Namun pada 2018 terdapat 35.000 orang pengangguran yang telah menghabiskan tunjangan asuransi pengangguran, yang mana angka itu stabil di level yang tinggi kata Caritas. Selain itu ada 360.000 orang yang bersedia untuk bekerja lebih tetapi tidak mendapatkan peluang.
Masalah ini paling banyak dialami wanita, yang tiga kali lipat lebih banyak memiliki pekerjaan paruh waktu dibanding pria. Akibatnya, uang pensiun yang diterima kaum Hawa rata-rata 37% lebih rendah dibanding kaum Adam, lapor Swissinfo.
Premi asuransi kesehatan juga menggerogoti pendapatan rakyat Swiss, yang naik lebih dari dua kali lipat selama 20 tahun terakhir, sedangkan gaji hanya naik 14% dalam kurun waktu yang sama, kata Caritas. Di kebanyakan wilayah Swiss, rata-rata orang membayar premi asuransi kesehatan sebesar 15% sampai 18% dari penghasilannya, atau jauh lebih tinggi dari 8% yang awalnya ditetapkan pemerintah.
Laporan Caritas juga menyebutkan bahwa di kebanyakan kota kecil, orang yang mengandalkan tunjangan sosial bertambah dan usianya semakin muda yaitu 46 tahun. Resiko ketergantungan hidup pada tunjangan sosial semakin tinggi di kelompok usia manula.
Melihat fakta tersebut, Caritas menyeru agar dilakukan reformasi sistem bantuan sosial agar dapat memberikan perlindungan kesejahteraan yang lebih baik bagi rakyat.*