Hidayatullah.com–Mantan perdana menteri Malaysia Najib Razak mengikrarkan sumpah laknat (mubahalah) untuk membantah tuduhan mantan anggota polisi komando Azilah Hadri bahwa dirinya yang memerintahkan pembunuhan wanita bernama Altantuya Shaariibuu.
Najib mengucapkan sumpah itu di Masjid Jamek Kanpung Baru, Kuala Lumpur, usai shalat Jumat hari ini (20/12/2019), lapor Malaysia Kini.
“Wallahi, wabillahi, watallahi. Alhamdulillah, sejak saya memasuki usia taklif hingga saat ini, saya tidak pernah mengarahkan mana-mana individu untuk membunuh seorang wanita warganegara Mongolia bernama Altantuya Shaariibuu. Malah saya tak pernah berjumpa dan tak mengenali mendiang sama sekali. Jika saya berdusta maka laknat Allah SWT ke atas diri saya. Dan jika saya benar, maka mereka yang memfitnah saya dan tidak bertaubat akan dilaknat oleh Allah SWT di dunia dan akhirat,” kata Najib membaca teks sumpahnya.
Hadir dalam pengucapan sumpah itu istrinya Rosmah Mansor dan putrinya Nooryana Najwa, Presiden UMNO Ahmad Zahid Hamidi, serta sejumlah petinggi partainya.
Setelah mengucapkan sumpah Najib bertakbir tiga kali, yang disambut jamaah masjid.
Mubahalah dilakukan Najib untuk membantah tuduhan yang diutarakan Azilah Hadri, terpidana mati bekas polisi anggota pasukan Unit Tindakan Khas (UTK), yang menyatakan dalam pernyataan bersumpah (statutory declaration) setebal 17 halaman bahwa dia melakukan pembunuhan Altantuya atas perintah Najib Razak yang ketika itu menjabat wakil perdana menteri. Pernyataan Azilah itu membeberkan bagaimana dia semasa bertugas dibawa ke kediaman Najib di Seri Kenangan di Pekan, daerah pemilihannya. Azilah mengatakan bahwa Najib tidak hanya memerintahkan wanita itu, tetapi juga meminta bahan peledak dari gudang senjata UTK untuk mengenyahkan jasad Altantuya dalam sebuah operasi rahasia. Altantuya adalah seorang wanita Mongolia berprofesi sebagai model, yang ketika dibunuh pada tahun 2006 diketahui sebagai kekasih gelap dari Abdul Razak Abdullah Baginda yang merupakan orang kepercayaan Najib Razak.
Sebelum mengucapkan sumpah, Najib sempat menjelaskan kepada hadirin di masjid itu bahwa dia pernah bersumpah dahulu di Ijok pada pilihan raya kecil (PRK) Ijok 2007, dan di Guar Perahu dan pada PRK Permatang Pauh 2008. Namun, sumpahnya kali ini merupakan “puncak segala sumpah,” kata Najib.*